Ngaku Disekap, WN Singapura Melapor ke Kedubes

0
7
Ngaku Disekap, WN Singapura Melapor ke Kedubes
MELAPOR - Perumal Rukesh Varan (kaos putih) saat melapor ke Polsek Kutsel karena mengaku disekap. (DenPost/ist)

Kuta, DenPost
Warga negara (WN) Singapura, Perumal Rukesh Varan (36), mengalami nasib kurang beruntung selama di Bali. Dia mengaku disekap di kamar oleh Miguel Antonio Garcia Lopez. Akibat kejadian itu, korban menderita secara psikis. Selain itu dia merugi secara materi karena selama disekap, dompet yang berisi surat penting dan HP lenyap.

Dalam kondisi masih ketakutan, korban melaporkan kasus yang dialaminya ke Polsek Kuta Selatan (Kutsel) pada Jumat (21/8/2020) dini hari. Laporan diterima Ka.SPKT Aiptu Wayan Sumantra. Selain itu korban mengadu ke Kedutaan Besar (Kedubes) Singapura di Jakarta.

Kuasa hukum korban, Reydi Nobel dan Joannes Saputro, Minggu (23/8/2020), menjelaskan pada Jumat (14/8/2020) sekitar pukul 18.30, saat berada di Hotel Dreamsea Bali di Jalan Labuan Sait, Pecatu, Kutsel, Rukesh Varan didatangi terlapor, Miguel Antonio Garcia Lopez. Pemilik Hotel Dreamsea ini datang bersama dua temannya untuk minta Rp350 juta kepada Rukesh Varan. Uang itu diduga terkait bisnis properti. “Permintaan itu ditolak korban karena dia tidak pernah merasa ada kerja sama dengan terlapor,” ujar Reydi Nobel.

Baca juga :  Polisi Tembak Pencuri Motor di Mengwi

Penolakan korban itu membuat terlapor marah. Dia lalu memaksa korban keluar dari lantai II Hotel Dreamsea yang disewanya. Dalam waktu bersamaan, terlapor mengajak korban ke suatu ruangan kamar di lantai bawah. Terlapor lantas meninggalkan korban di kamar dengan kondisi pintu terkunci dari luar selama enam hari. “Korban dikash makan sehari dua kali. Kondisinya sangat menderita. Bahkan orangtuanya di Singapura jadi syok dan masuk rumah sakit,” imbuh Reydi.

Baca juga :  Suiasa Buktikan Pemerintah Selalu Ada di Tengah Masyarakat

Pada hari kelima yakni 18 Agustus sekitar pukul 15.00 korban diajak ke suatu tempat di sebelah Polsek Kutsel. Di tempat itu terlapor bersama dua rekannya kembali memaksa korban membayar sejumlah uang, tapi jumlahnya turun menjadi Rp200 juta. “Lagi-lagi permintaan terlapor itu ditolak korban dengan alasan tak punya uang dan tak pernah merasa menjanjikan pada terlapor,” imbuh pengacara yang hobi menembak ini.

Baca juga :  Empat Hari PKM, 1.543 Warga Tanpa Tujuan Jelas Disuruh Balik

Gagal memeras korban, pelapor kembali memasukkan korban ke kamar Kotel Dreamsea lantai bawah. Pada 19 Agustus sekitar pukul 10.00 terlapor dan seorang temannya kembali mimta Rp200 juta . Nah kala itu korban menjanjikan membayar Rp150 juta. “Korban menjanjikan karena ketakutan. Dia tidak tahan ditekan terus,” pungkas Reydi Nobel sembari berharap korban mendapat keadilan. (yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini