90 Persen Warga Lembongan Kembali ke Budidaya Rumput Laut

0
6
90 Persen Warga Lembongan Kembali ke Budidaya Rumput Laut
PETANI – Para petani rumput laut di Nusa Penida saat melakukan rutinitas berbudidaya.

Semarapura, DenPost

Pandemi covid-19 betul-betul membuat sektor pariwisata di wilayah Lembongan, Nusa Penida, Klungkung lumpuh. Hampir 90 persen warga Lembongan yang dulunya mengandalkan sektor pariwisata kini kembali beralih melakukan budidaya rumput laut. Bahkan areal budidaya rumput laut yang ditanam warga semakin meluas hingga ke Jembatan Kuning (jembatan penghubung Nusa Ceningan dan Lembongan).

Kondisi ini tidak ditampik Perbekel Lembongan, Ketut Gede Arjaya, Minggu (30/8/2020). Menurut Arjaya, awalnya dirinya bersama Pemkab telah berupaya membangkitkan budidaya rumput laut di Lembongan dengan membuat demplot pada bulan Agustus Tahun 2018. Yang mana hasil dari demplot dikatakan bagus sehingga pihaknya kemudian mengajak dan mendata warga untuk kembali menekuni budidaya rumput laut.

Baca juga :  Peternak Rugi Besar, Populasi Babi di Klungkung Turun Drastis
90 Persen Warga Lembongan Kembali ke Budidaya Rumput Laut
RUMPUT LAUT – Rumput laut yang dibudidayakan para petani Nusa Penida.

Sayangnya, saat itu antusias warga  untuk menekuni budidaya rumput laut masih agak minim. Hal ini terjadi karena warga masih condong menekuni sektor pariwisata. Baru sejak bulan Maret, saat covid-19 menerjang, hampir 90 persen warga beralih membudidayakan rumput laut. Apalagi sektor pariwisata di Lembongan saat itu lumpuh total. Banyak warga yang tidak bekerja sehingga beralih kembali menanam rumput laut.

“Tidak hanya yang bekerja di pariwisata yang kembali budidaya rumput laut. Warga yang bekerja di pertukangan dan lainnya juga ikut beralih sehingga areal tanam rumput laut di Lembongan sampai ke barat di jembatan Kuning,” katanya.

Menurut Arjaya, hasil tanam rumput laut warga terbilang cukup baik. Walaupun diakui ada beberapa diserang hama dan hasilnya kurang bagus karena air laut sering surut. Namun yang menjadi kendala serius sekarang adalah soal harga. Karena sejak beberapa hari ini, pihaknya mendapat informasi harga rumput laut terus merosot. Dari harganya yang dulunya Rp 12 Ribu, turun menjadi Rp 10 ribu dan sekarang turun lagi menjadi antara Rp 8 ribu sampai Rp 9 ribu per kilogram.

Baca juga :  Beredar Pesan Berantai Ajakan Tidak Makan Daging Babi

“Informasi yang saya dapat dari pengepul turunnya harga rumput laut ini karena kurangnya permintaan dari pabrik, sehingga menyebabkan semua gudang yang ada di Indonesia termasuk  di Bali dan tempat lainnya kepenuhan akibat tidak lancarnya ekspor rumput laut,” ungkapnya.

Sebagai warga Lembongan, Arjaya berharap agar budidaya rumput laut di Nusa Penida terus berkembang dan harganya tetap stabil. Karena dari kaca matanya, budidaya rumput di Lembongan ditinggalkan warga lantaran harganya tidak stabil. Bahkan tidak sebanding dengan jerih payah yang dilakukan warga menanam rumput laut. Apalagi rata-rata pembudiaya mengelola 10-15 are dengan jumlah petani sekitar 500 KK di Nusa Lembongan.

Baca juga :  Petugas TOSS Center Dilarikan ke Rumah Sakit Gara-gara Ini

Adapun jenis rumput laut yang dibudidayakan di Nusa Lembongan yaitu cottoni atau rumput laut merah. Rumput laut ini biasanya digunakan untuk bahan kosmetik, kapsul, jajanan ringan dan diolah menjadi produk lainnya. Dalam satu minggu, minimal masing-masing pembudidaya rumput laut memperoleh 60 kg dan selanjutnya dijual kepada pengepul. (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini