Motif Kain Gringsing Termuat di Pecahan Rp 75 Ribu, Ini Harapan Warga

0
3
Motif Kain Gringsing Termuat di Pecahan Rp 75 Ribu, Ini Harapan Warga
LUBENG - Motif lubeng pada kain tenun gringsing khas Desa Tenganan yang termuat dalam pecahan Rp 75 ribu.

Amlapura, DenPost

Warga Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem kini berbangga. Sebab, motif lubeng yang merupakan salah satu motif kain gringsing khas Tenganan termuat di uang pecahan Rp 75 ribu yang resmi dikeluarkan pada 17 Agustus lalu.

Kepala Desa Tenganan, I Ketut Sudiastika, berharap hal ini dapat menjadi motivasi bagi pemuda desa untuk tetap menekuni dan melestarikan kerajinan tenun kain gringsing yang syarat filosofi.

“Kami sangat berbangga. Khususnya menjadi apresiasi bagi kami dalam upaya pelestarian kain gringsing yang sudah ada sejak dahulu kala,” ungkap Sudiastika. Lebih lanjut ia menuturkan,  kain gringsing di Desa Bali Kuno Tenganan Pegringsingan memiliki kesakralan tinggi. Tiap upakara yang ada di desa, setiap warga diwajibkan mengenakan kain gringsing ini. Terkait makna, lanjutnya, gringsing berasal dari dua kata yaitu gering dan sing. “Gering artinya sakit, sing artinya tidak. Jadi artinya tidak sakit,” ungkap mantan Bendesa Adat Tenganan ini.

Baca juga :  Andalkan Satu Dermaga, Bongkar Muat Dipersingkat Jadi 30 Menit

Sudiastika menuturkan, dalam satu kain gringsing memuat tiga warna yaitu hitam, merah dan putih yang berarti Dewa Trimurti simbol penguasa alam semesta. “Seluruh warna bahannya alami dari tumbuhan hutan desa. Tiga warga tersebut sebagai sebuah simbol upaya memohon anugerah sang pencipta. Kehadiran 3 unsur warna tersebut juga menjadi penyeimbang. Apalagi di dalam setiap lambang kain gringsing, pasti ada simbol tapak dara di bagian tengah,” paparnya.

Baca juga :  Pura Terbakar Sehari Sebelum Ngenteg Linggih, Pratima dan Keris Hangus

Cara pembuatan kain ini juga terbilang istimewa. Selain proses penenunan yang masih tradisional, proses pewarnaan benang juga memakan waktu cukup lama yakni 3 hingga 4 tahun. “Sedangkan untuk proses tenunnya memakan waktu 2 sampai 4 tahun,” tutur Sudiastika. Proses yang lama dan masih tradisional membuat kain ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Satu selendang kain gringsing dengan kualitas biasa saja dibandrol dengan harga Rp 900 ribu sampai Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk kain gringsing yang memiliki kualitas tinggi dan usia yang lama bisa dihargai hingga puluhan juta rupiah.

Baca juga :  Langka, Masker di Karangasem Tembus Rp 250 ribu Per Kotak

Walau memiliki nilai ekonomi tinggi, masih sedikit pemuda desa yang melirik potensi ini. Dengan termuatnya di pecahan Rp 75 ribu dan menjadi promosi wisata, Sudiastika berharap dapat mebangkitkan semangat penenun muda, untuk tetap berkarya sembari melestarikan warisan leluhur ini. “Semoga banyak pemuda desa tergugah untuk menekuni tenun tradisional ini,” pungkasnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini