Tri Nugraha Tembak Diri dengan Pistol

0
8
Tri Nugraha Tembak Diri dengan Pistol
JENAZAH - Sejumlah anggota FKPPI menggotong jenazah mantan Kepala BPN Denpasar, Tri Nugraha, di Jalan Gunung Talang I, Denpasar, Selasa.

Renon, DenPost

Aksi bunuh diri yang dilakukan tersangka kasus dugaan gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU), Tri Nugraha (TN), di toilet Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, pada Senin (31/8/2020) lalu, mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Badung dan Denpasar itu menembak dada kiri dengan pistolnya sendiri saat hendak ditahan jaksa.

Mengenai kasus itu, sejumlah warga mempertanyakan sistem pengamanan di Kejati Bali. Bagaimana tidak, seorang tersangka yang hendak dijebloskan ke ruang tahanan malah membawa senjata api (senpi) hingga akhirnya menembak dirinya sendiri. Wakajati Bali Asep Maryono saat jumpa pers Selasa (1/9) kemarin mengaku tidak tahu jika tersangka membawa senpi. Dia mengaku telah melakukan pengamanan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Ketika memasuki Kejati Bali, barang-barang milik TN awalnya dimasukkan ke loker dan kuncinya dibawa tersangka. ‘’Kuncinya ada satu dan kami tidak memiliki duplikat,” beber Asep Maryono.

Kenapa Kejati Bali tak menjalankan protap penjagaan seperti menyiapkan metal detector (detetor logam)? Asep Maryono langsung membantahnya. Menurut dia, pihak Kejati Bali sejatinya sudah melakukan pengamanan semaksimal mungkin. Bahkan tersangka sempat diperiksa saat dijemput ke rumahnya di Jl.Gunung Talang, Padangsambian Kelod, Denbar. “Kami juga melakukan pemeriksaan badan, termasuk HP tidak boleh dibawa masuk oleh tersangka. Namun apa yang terjadi? Ini semua di luar kemampuan kami, dan kami pastikan tidak ada pelanggaran prosedur,” jawabnya.

Baca juga :  Pesan Berantai Penutupan Wilayah di Penatih Dipastikan Hoaks

Seperti apa kronologis penembakan itu? Asep Maryono menjelaskan awalnya TN dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pada akhir pekan lalu. Saat itu TN baru bisa memenuhi panggilan penyidik pada Senin lalu. TN datang ke Kejati Bali sekitar pukul 10.00 dan langsung menjalani prosedur di Kejati Bali, salah satunya menitipkan seluruh barang bawaannya di loker, dan kunci loker dibawa TN.

 

Pada siang hari, TN minta izin keluar Kejati untuk menjalankan Sholat dan makan buka puasa, sebab dia mengaku sedang menjalani puasa sunah. Tapi hingga pukul 15.00, dia tidak kembali. Penyidik sempat mencari dan menghubunginya, namun HP-nya mati.

Setelah dilakukan pelacakan, ternyata TN ada di rumahnya di Jalan Gunung Talang, Padangsambian Kelod, Denbar. Dia lalu dijemput Asintel dan Aspidsus untuk dibawa ke Kejati Bali. Dari hasil pemeriksaan lanjutan inilah akhirnya diputuskan untuk menahan TN. Salah satu pertimbangannya supaya dia tidak melarikan diri. “Saat itu Tri juga digeledah sebelum masuk ruang pemeriksaan. Tidak ditemukan apa-apa, termasuk pistol,” beber Asep Maryono.

Baca juga :  Wacana Wisatawan Bekerja dari Bali, Adhi Ardhana Sebut Prospek

Saat akan dilakukan penahanan inilah, TN minta izin ke toilet. Dia juga minta kuasa hukumnya untuk mengambilkan tas di loker kejaksaan. “Keduanya (Tri dan kuasa hukumnya) lalu menuju toilet. Begitu kuasa hukumnya keluar dari toilet, terdengarlah suara tembakan sekali,” jelas Asep Maryono.

Dengan meninggalnya TN, Wakajati memastikan perkaranya akan ditutup.

Sebelumnya DenPost memberitakan tersangka TN (53) mengakhiri hidupnya dengan cara menembak dada kiri dengan pistol yang dibawanya di toilet lantai II Kejati Bali pada Senin (31/8/2020) pukul 19.45. Awalnya TN datang ke Kejati Bali sekitar pukul 12.00 bersama pengacaranya, Harmaini Idris Hasibuan, untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi dan TPPU. “Sebelum masuk ruang pemeriksaan di lantai II, dilakukan pemeriksaan badan. Setelah itu, tas, HP dan barang lainnya milik TN dititip di loker. ‘’Saat naik ke lantai dua menjalani pemeriksaan, Tri dipastikan tidak membawa apa-apa,” ujar jaksa saat itu.

Baca juga :  Lahan BLK Telantar, Warga Usulkan Ini

Setelah periksaaan, penyidik lalu mengeluarkan penetapan penahanan terhadap TN. Saat diminta menandatangani surat penahanan inilah TN menolak. “Sempat alot saat diminta tanda tangan penahanan karena Tri menolak. Tapi penyidik mengingatkan tanpa tanda tangan, Tri pun tetap ditahan,” jelasnya.

TN lalu menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan sebelum ditahan mulai dari tes swab hingga pemeriksaan dokter dari RS Bali Mandara yang menyatakan TN sehat dan bisa ditahan. Setelah pemeriksaan selesai sekitar pukul 19.45, TN digiring dari lantai II ruang pemeriksaan menuju mobil tahanan yang siap di depan lobi Kejati Bali. Namun TN keburu mengakhiri hidup dengan menembak dada kirinya. “Siapa yang memberikan dia pistol? Masih ditelusuri. Tapi dia sempat dilihat waktu keluar ruangan membawa tas kecil,” beber jaksa.

 

Penyidik lalu memeriksa kondisi TN yang tak sadarkan diri di toilet, dan dinyatakan sudah tak bernyawa. Sekitar pukul 20.00, jenazahnya digotong dua petugas menuju mobil tahanan untuk dilarikan ke RS Bross, Renon, Denpasar. (yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini