Tentang Warak Kruron, Ngelangkir dan Ngelungah, Ini Penjelasannya

0
10
Picsart 09 08 10.41.33
WARAK KRURON - Upacara warak kruron dipuput dua sulinggih, Senin (7/9) lalu di Padanggalak. Ini merupakan upacara penyucian atma bayi yang telah meninggal.

Kesiman, DenPost

Warak kruron, ngelangkir dan ngelungah, merupakan upacara dewa yadnya yang diperuntukkan kepada bayi yang telah meninggal. Upacara ini mulai diselenggarakan secara massal, untuk meringankan biaya tanpa mengurangi makna upacara.

Seperti yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bakti Pura Puseh Denpasar, Senin (7/9/2020) di Pantai Padanggalak. Upacara ini disambut antusias masyarakat. Sekitar 120 peserta mengikuti upacara tersebut. Ketua Paguyuban Pinandita Yayasan Dharma Bhakti Pura Puseh Desa Adat Denpasar Yayasan Dharma Bakti, Jero Kadek Iwan Wirawecana Pradnyan, mengatakan, ini merupakan jalan penyucian atma sang bayi.

Baca juga :  Bali Potensial Jual Ruang Kerja Bagi Wisatawan

Dijelaskannya, setelah dilangsungkan upacara ini, para orangtua berharap perjalanan atma bayi lancar menuju nirwana. “Ini adalah upacara adat bagi bayi meninggal. Dipercaya atma masih mengandung unsur butha, sehingga upacara ini bertujuan menyelaraskan energi bayi agar bersih, sehingga dapat menyatu dengan Tuhan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, masing-masing upacara itu memiliki makna tersendiri. Upacara warak kruron, diperuntukkan bayi yang keguguran. Upacara ini diyakini dapat menghilangkan energi buruk terhadap orangtua bayi. “Upacara ngelangkir diperuntukkan kepada bayi yang meninggal sebelum pusarnya terputus,” terangnya.

Baca juga :  Buronan Polda Metro Jaya Bersembunyi di Salah Satu Hotel di Denpasar

Sedangkan upacara ngelungah, kata Iwan, diperuntukkan bagi bayi yang meninggal sebelum gigi tanggal. Kata dia, suasana berlangsung khusuk dan mengharukan. Terutama ketika doa permohonan maaf dari orangtua kepada bayi.

“Ini sekaligus simbolis bahwa pihak keluarga ikhlas atas kepergian bayi. Dalam warak kruron tadi juga ada seremonial ada narasi, permintaan maaf dari orangtua kepada anak yang meninggal, baik keguguran yang disengaja maupun tidak,” terangnya, yang didampingi Ketua Panitia, Jero Mangku Ketut Pasek Budiarta.

Baca juga :  Covid-19 di Denpasar, 13 Pasien Sembuh dan 14 Terpapar

Jero Mangku Budiarta menjelaskan, kegiatan ini dipimpin oleh Ida Bagawan Agra Sagening dan Ida Bagawan Wiweka Dharma. “Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat, dengan cara yang sederhana, sehingga biaya dapat dioptimalkan, namun tidak lepas dari teks-teks suci,” tutupnya. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini