Cegah Covid-19, Penatih Atur ‘’Krama’’ Sembahyang ke Pura saat Galungan

0
4
PARUMAN - Jro Bendesa Penatih, Wayan Sana, (tengah), didampingi Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Penatih, I Wayan Eka Yana (paling kiri), saat paruman (rapat) di wantilan pura setempat, Minggu (13/9/2020).

Denpasar, DenPost.id
Pandemi covid-19 memaksa warga untuk mengatur segala aktivitas, termasuk persembahyangan. Desa Adat Penatih, Denpasar Timur (Dentim), misalnya, membatasi krama (warga) sembahyang ke tempat-tempat suci. Hal itu dilakukan untuk mencegah kerumunan karena dapat menyebarkan covid-19.

Jro Bendesa Penatih, Wayan Sana, usai paruman (rapat) di wantilan pura setempat, Minggu (13/9/2020), menyebutkan bahwa pihaknya menerapkan protokol kesehatan (prokes) cukup ketat pada Galungan, Rabu (16/9/2020). Krama yang sembahyang ke merajan, pura dadia, Pura Dalem Khayangan, maupun Pura Penataran Penatih, diatur sedemikian rupa. Desa yang terdiri atas empat banjar: Paangkaja, Paang Klod, Semaga, dan Laplap Arya ini, menetapkan jadwal sembahyang mulai pukul 07.00 hingga pukul 10.00 saja.

Pengaturan krama yang sembahyang ini diawasi pecalang dan Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat Penatih. ‘’Mereka yang sembahyang ke Pura Penataran Penatih, kami atur agar tidak ada kerumuman. Kami harap mereka tertib menerapkan prokes,’’ tegas Sana.
Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Penatih, I Wayan Eka Yana, menambahkan bahwa pihaknya akan menugaskan 30 anggota guna mengatur krama yang sembahyang ke pura. Pengaturan ini dilakukan supaya tidak ada kerumuman menjelang maupun saat sembahyang. ‘’Kami tidak ingin muncul klaster baru covid-19 saat Galungan nanti. Untuk itu, kami atur krama agar tertib menjaga jarak dan tetap menerapkan prokes,’’ tegasnya.

Baca juga :  Jelang Penerapan PKM, Pedagang Pelataran Pasar Kumbasari Diatur Jarak

Eka Yana menambahkan warga Desa Adat Penatih yang terdiri dari 350 KK (sekitar 1.000 warga) ini diberikan jadwal sembahyang sejak pukul 07.00 dan harus berakhir pukul 10.00. ‘’Jika ada krama yang sembahyang di luar jadwal itu, tetap kami harapkan mengikuti prokes secara ketat, sebab covid-19 ini sulit kita deteksi,’’ bebernya.

Begitu juga saat sembahyang, setiap krama wajib mengenakan masker. Sebelum memasuki pura, mereka menjalani pengukuran suhu tubuh, cuci tangan di air mengalir, memanfaatkan sanitizer, dan tetap menjaga jarak. ‘’Sarana upacara seperti tirta dan bija juga kami perhatikan agar steril dari virus. Ini demi keselamatan dan keamanan bersama,’’ tegas Eka Yana.

Baca juga :  Lama Ditelantarkan, Warga Usulkan Lahan BLK untuk Ini

Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat Penatih ini juga mengimbau warga yang merasa kurang enak badan: panas, batuk-batuk, atau pilek, agar sementara ini tidak sembahyang ke pura. Mereka diharapkan sembahyang di merajan masing-masing dulu, dan jika suasana sudah membaik, maka sembahyang bersama dibolehkan kembali. ‘’Kalangan orang-orang tua pun diharapkan sembahyang di rumah, sebab mereka rentan terpapar covid-19. Bagi yang menderita sakit jantung atau kencing manis supaya diam dulu di kediaman masing-masing,’’ tambahnya.

Pengaturan sembahyang saat hari raya ini, menurut Eka Yana, mesti juga diterapkan di tempat lain di Pulau Dewata. Menurut dia, ketat menerapkan prokes merupakan salah satu upaya mencegah penularan covid-19. Pengaturan sembahyang seperti ini perlu dilakukan secara serentak, karena perang melawan covid-19 tak hanya di lingkungan Desa Adat Penatih, tapi di seluruh Bali, bahkan Indonesia dan dunia.
Menjelang Galungan, desa adat setempat pada Minggu kemarin juga menyemprotkan disinfektan di rumah-rumah warga dan tempat suci. Dengan dengan demikian, beberapa hari menjelang hari raya, lingkungan menjadi bersih dan sehat. Begitu pula kesehatan para pemangku yang bakal muput karya tetap diperhatikan. Kesehatan mereka diperiksa petugas, dan semuanya sehat-sehat saja. ‘’Dua puluh mangku yang nanti bertugas mendapat perhatian khusus, sebab mereka yang ikut mengatur warga agar tertib,’’ tandasnya.
Hal lain yang juga membedakan Galungan kali ini dengan sebelumnya, menurut Bendesa Adat Penatih Wayan Sana, yakni Penampahan pada Selasa (15/9/2020) dilaksanakan secara sederhana. ‘’Kami tidak ramai-ramai nampah celeng, karena celeng memang tidak ada. Begitu juga pandemi covid-19 lagi marak, dan satu lagi duit yang sangat terbatas,’’ tandasnya, tertawa. (yad)

Baca juga :  Deteksi Penumpang Viking Sun, RSBM Gunakan Alat Ini

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini