Tulang Belulang dan Bekal Kubur di Bitra Diduga Jasad Masyarakat Biasa

0
8
Picsart 09 22 07.53.56
BEKAL KUBUR - Temuan tulang belulang beserta bekal kubur di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitra, Kecamatan Gianyar.

Gianyar, DenPost

Temuan tulang belulang beserta bekal kubur di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitra, Kecamatan Gianyar telah dicek oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali yang berkantor di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. BPCB menduga tulang belulang itu dari jasad masyarakat biasa pada jamannya.

Petugas BPCB, Yadnya seizin Kepala BPCB, Komang Anik Purniti, dihubungi Selasa (22/9/2020), menjelaskan yang ditemukan dalam penggalian septic tank ada dua, yakni pertama bekal kubur bernama Tajak. “Tajak dari bahan logam perunggu. Fungsinya sebagai alat dalam bercocok tanam pertanian zaman itu,” kata Yadnya.

Baca juga :  Baliho Covid-19 di Sukawati Dirusak Orang Tak Dikenal

Selain itu juga ditemukan rantai yang disebut cincin. Cincin ini kemungkinan fungsinya sebagai aksesoris atau sebagai pertanda yang dikubur memiliki status sosial di atas masyarakat biasa.
Namun, pihaknya menyayangkan peti batunya tidak ditemukan. Di mana, biasanya orang yang memiliki status sosial tinggi atau tokoh dalam masyarakat dikubur dengan peti batu dan bekal kubur.

Melihat dari bekal kubur yang ditemukan, hanya berupa tajak dan cincin, pihaknya menyimpulkan jasad adalah masyarakat atau orang biasa. Selain itu, karena bekal kubur yang dibawa juga sedikit sehingga mungkin orang ini statusnya masyarakat biasa. Dengan adanya temuan itu, pihaknya menampik pernah ada kota kuno di wilayah Dauh Uma, Kelurahan Bitra Gianyar ini. Karena bukti-bukti ke arah itu belum ditemukan.

Baca juga :  Jelang FIFA, Stadion Dipta Gianyar Akan Direnovasi

Temuan tersebut, merupakan komponen salah satu sistem penguburan atau bekal kubur manusia masa prasejarah. Karena tidak ditemukan adanya sarkofagus sebagai wadahnya, diduga memakai sistem penguburan primer. Untuk langkah selanjutnya, pihaknya masih  menunggu hasil penelitian dari Balai Arkeologi. Pihaknya mengaku apakah perlu dilestarikan atau bagaimana. “Rekomendasinya apakah perlu diselamatkan dan dilestarikan,” katanya.

Dikatakan, apabila memang rekomendasinya ternyata objek yang diduga cagar budaya yang mesti dilindungi dan dilestarikan, maka BPCB Bali akan melakukan pelestarian. “Dengan catatan, kalau pemilik atau penemunya tidak berkehendak melakukan pelindungannya maka benda tersebut diserahkan kepada negara untuk disimpan di lembaga BPCB,” tandasnya. (116)

Baca juga :  Pemalsu Akta Perceraian, Bupati Gianyar Intruksikan Ini

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini