Anak di PHK, Ratin Harapkan Bantuan Modal Usaha

0
5
Picsart 10 11 06.15.02
Ketut Ratin, bersama sang suami Ketut Wardina.

Amlapura, DenPost

Roda kehidupan tak dapat ditebak. Bahkan, saat nasib seketika memutarnya ke bawah tak ada yang dapat mengelak. Hal tersebut yang dirasakan Ketut Ratin (46) seorang ibu dua anak, asal Banjar Tumbu Kelod, Desa Tumbu, Karangasem.

Pandemi Covid-19, membuat anak yang menjadi tulang punggung keluarga terkena PHK. Kini, ia yang hanya bekerja pijat keliling dan harus sekuat tenaga menanggung hidup suami, dua anak, satu menantu dan cucu.

“Dulu saya hanya menanggung biaya suami saya saja. Sakit kencing manis sejak 2011 lalu, membuat dia tak lagi dapat bekerja. Sedangkan anak-anak saya satu kuliah dan biaya hidupnya di tanggung oleh kakaknya yang telah bekerja,” tutur istri dari Ketut Wardina (53) ini.

Baca juga :  Pasca-pecah Lambung, Evakuasi KMP Dharma Rucitra III Tunggu Tug Boat

Ratin memiliki dua anak laki-laki, anak pertamanya telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Sedangkan anak keduanya tengah menempuh pendidikan di semester 3, salah satu perguruan keguruan swasta di Denpasar. “Anak pertama, Kadek Adi dulu bekerja sebagai bartender di salah satu hotel di kawasan Ubud. Dialah yang menanggung kuliah adiknya, Komang Panji. Sehingga saya hanya bekerja fokus untuk makan bersama suami. Tapi sejak Covid-19 menyerang, anak saya di PHK tanpa pesangon. Kini semua rencana berantakan,” ungkapnya.

Menganggur, Kadek Adi yang semula mengontrak di kawasan Gianyar memboyong anak dan istrinya pulang ke kampung halaman. “Sedangkan adiknya, Komang Panji sudah 8 bulan tak bisa bayar kos. Berkali-kali tuan rumahnya memperingati. Tapi anak saya tak berani menanggapi, malu dan takut. Sudah pasrah,” ungkapnya.

Baca juga :  KPU Harapkan Partisipasi Aktif Perempuan

Tak hanya menunggak kontrakan, Komang Panji juga menunggak pembayaran ujian semester yang telah jatuh tempo sejak beberapa bulan lalu. “SPPnya Rp7 juta persemester, jika tiba giliran harus bayar kami tak tahu lagi harus bagaimana,” keluh Ratin.

Kesehariannya, Ratin hanya bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Maksimal penghasilan sehari sebesar Rp50 ribu. Kadang jika tak ada costumer yang menghubungi, ia tak dapat menghasilkan sepeserpun. “Untuk menanggung makan semua keluarga yang sekarang di rumah rasanya sudah sangat sulit. Belum lagi biaya susu untuk cucu saya. Meski sudah usia 3 tahun, ia belum bisa makan nasi hanya mau minum susu,” imbuhnya.

Baca juga :  Hari Raya Kuningan, Dana Dipa Awali Kampanye

Menganggur, pasca di PHK anak pertamanya sangat berniat untuk membuka usaha, namun terkendala modal. Berusaha mencari pekerjaan pun tak kunjung dapat. “Saya tidak dapat bantuan apapun, hanya dapat sembako dua kali. Terkait kondisi anak saya yang di PHK dan keluarga saya sama sekali belum ada uluran tangan. Saya sangat berharap, pihak pemerintah dapat memberi bantuan modal kerja. Misalnya bibit sapi atau babi,” harapnya. (yun)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini