Mengenal Desa Bongan, Jejak Peninggalan Patih Kebo Iwa di Kabupaten Tabanan

0
19
Mengenal Desa Bongan, Jejak Peninggalan Patih Kebo Iwa di Kabupaten Tabanan
Pura Puseh Bedha (kiri), Bale Agung Ki Patih Kebo Iwa (kanan)

Oleh

Nyoman Utari Vipriyanti, Emy Handayani, Dewa Ayu Puspawati, Putu Yulianti Sapanca

(Tim PPDM Desa Bongan)

 

PARIWISATA Bali berkembang pesat dan mendorong munculnya berbagai atraksi wisata baru sebagai bentuk diversifikasi atraksi.  Hal ini tidak saja terjadi di Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar yang selama ini menjadi pusat konsentrasi atraksi wisata, melainkan juga muncul daerah-daerah tujuan wisata baru di kabupaten lainnya termasuk di Tabanan.

Lokasi tabanan yang tidak jauh dari Bandar Udara Ngurah Rai serta jalur Gilimanuk-Denpasar menyebabkan potensi wisata di Kabupaten Tabanan cepat berkembang.  Hal ini juga didukung adanya objek wisata yang telah terkenal lebih dahulu yaitu Pura Tanah Lot dan Pura Ulun Danu Beratan.

Selain objek wisata pura, desa-desa di Kabupaten Tabanan memiliki beragam keunikan budaya yang tidak dimiliki oleh desa lain di Bali.  Salah satu desa yang sedang giat mengembangkan potensinya menuju desa wisata adalah Desa Bongan.  Desa Bongan terletak di Kecamatan Tabanan, berjarak hanya 3 Km dari Objek wisata Tanah Lot dan dapat dicapai menggunakan kendaraan karena akses jalan yang sangat baik.

Suasana desa yang asri, dengan udara sejuk dan tatanan kehidupan masyarakat yang sangat kental dan memegang adat istiadat secara kukuh sangat terasa saat berada di Desa Bongan. Perjalanan menuju Bongan tidak terasa melelahkan karena pemandangan di sepanjang jalan yang hijau menyegarkan mata. Bongan memang belum terkenal seperti desa wisata lainnya di Bali. Namun saat kita sudah tiba di lokasi maka rasa nyaman akan membuat kita enggan pulang.

Baca juga :  Jalan Bergelombang, Truk Oleng

Bongan memiliki keunikan tersendiri dengan segitiga emasnya: penangkaran burung jalak putih, Air Terjun Grembengan serta Pura Puseh Bedha dengan Bale Agung Ki Patih Kebo Iwa.  Keunikan Pura Puseh Bedha dengan hikayat Ki Patih Kebo Iwa menjadi penciri utama Desa Wisata Bedha.  Pura Puseh Bedha terletak di Perbatasan Desa Bongan, Desa Pejaten dan Desa Sudimara.  Bongan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena memiliki sumber daya alam, sumber daya sosial, sumber daya manusia dan sejarah yang unik.

Pura Puseh Bedha merupakan pura yang disungsung 26 Banjar adat.  Pengembangan wisata di kawasan ini diarahkan kepada wisata religius dan wisata edukasi, mengingat di Desa Bongan terdapat situs budaya berupa pura puseh dan bale agung yang merupakan jejak perjalanan Kebo Iwa. Selain sebagai objek wisata, keberadaan pura puseh dan bale agung juga kerapa dijadikan lokasi pemotretan pranikah (preweeding) karena beberapa keunikannya dan arsitektur bangunan yang masih dijaga keasliannya.

Di samping itu, beberapa budaya atau kebiasaan masyarakat yang masih dilestarikan seperti upacara mreteka/ngaben bikul (tikus). Upacara butha yadnya yang khas yang ada di Bali ini sebenarnya sudah cukup sering dilakukan oleh masyarakat Hindu di Kabupaten Tabanan, khususnya oleh krama subak di wilayah Desa Pekraman Bedha, Desa Bongan.  Mengingat wilayah desa ini sebagian besar penduduknya hidup dari bercocok tanam, khususnya padi sehingga upacara yang berhubungan dengan keselamatan dan kesuburan tanaman, turun-temurun dilaksanakan seperti yang rutin dilaksanakan yakni masembuhan dan nanggeluk merana.

Ada pula upacara yang tidak rutin yakni nagata kala seperti ngalepeh dan mreteka merana. Mreteka merana terdiri dari dua kata yaitu kata mreteka dan kata merana. Mreteka artinya mengupacarai, merana artinya hama penyakit. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menyucikan roh/atma hama penyakit supaya kembali ke asalnya sehingga tidak kembali menjelma ke bumi sebagai hama penyakit dan merusak segala jenis tanaman yang ada di bumi, khususnya tanaman padi.

Baca juga :  Pria Pengangguran 11 Kali Bobol Pura di Tabanan

Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan isi lontar (kitab) seperti lontar Sri Purana dan lontar Dharma Pemacula yang menyebutkan kapreteka, sama luirnya mretekaning wong mati bener artinya diupacarai seperti mengupacarai orang mati.

Meskipun potensi wisata ini telah dikembangkan, namun pada kenyataannya belum mencapai hasil yang optimal. Pengelolan wisata di Desa Adat Bedha ini dikelola secara mandiri oleh Desa Adat Bedha, tidak dilakukan oleh Desa Bongan. Dualisme ini boleh jadi menyebabkan pengelolaan objek wisata belum maksimal baik dari sisi operasional, SDM maupun promosi. Belum ada lembaga khusus sebagai pengelola, hanya ada berupa yayasan yang bernama Dana Arta Paramita. Berdasarkan pembiayaan pun hanya bersumber dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang dimiliki oleh Desa Adat Bedha dan iuran krama Desa Adat Bedha. Terkait promosi juga masih bersifat terbatas karena akses dan media promosi belum mencapai jangkauan yang lebih luas.

Baca juga :  Puluhan PMI Tabanan Tiba, Dandim Minta Ini

Pengembangan Desa Wisata Bongan ditunjang pula dengan potensi objek wisata lain yang sangat menarik namun belum digarap dengan optimal seperti penangkaran burung jalak putih dan Air Terjun Grembengan. Perjalanan ke Desa Bongan tidak akan membosankan.  Hamparan sawah yang hijau dengan akses jalan yang baik akan membuat perjalanan wisata ke Desa Bongan tidak terlupakan. Tidak ada alasan untuk tidak berkunjung ke desa wisata yang “manis” ini apalagi patung Ki Patih Kebo Iwa yang akan menjadi patung tertinggi sudah mulai digarap. Sampai jumpa di Desa Wisata Bongan.

Terima kasih penulis sampaikan kepada DRPM, Kemristek-BRIN, Masyarakat Desa Bongan, Bendesa Adat Bedha dan Unmas Denpasar atas segala fasilitasnya sehingga tulisan kecil ini dapat diselesaikan. (a/*)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini