Pemalsuan Surat Divonis Ringan, Ahli Waris Kecewa

0
7
Picsart 10 23 05.20.45
Henry Sianto.

Singaraja, Denpost

Untuk menentukan ahli waris dari seorang WNI keturunan Tionghoa dan Eropa, pembuatan surat keterangan waris didahului dengan pengecekan wasiat ke pusat daftar wasiat di Kemenkumham. Namun, dalam kasus warisan milik almarhum Siantara Budiana (Sia Ping Siang), pengusaha jeruk beralamat di Jalan Ayani Gang Weda Purana 115C Singaraja yang meninggal pada, 16 September 2015, diperoleh hanya dengan surat dibawah tangan saja.

SHM No : 666 di Kelurahan Banyuasri Singaraja yang sebelumnya atas nama Siantara Budiana, dialihkan kepemilikannya kepada Bagus Jaka Sugiarta, SHM no : 665, 1038 dan 2523 /Kelurahan Banyuasri kepada Bagus Sarjana, setelah proses turun waris dan pembagian hak bersama. “Ayu Sri Handayani yang mengaku istri almarhum, bersama kedua anaknya, yaitu Bagus Jaka Sugiharta dan Bagus Sarjana menandatangani silsilah waris dan surat keterangan waris yang diterbitkan oleh Disdukcapil Buleleng No. 477/117/IV/2018 tertanggal 24 April 2018 diketahui bahwa antara Ayu dan almarhum tidak tercatat perkawinannya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dan akta kelahiran kedua anaknya adalah akta ibu,” beber Henry Sianto (46), anak sah almarhum, Jumat (23/10/2020), di Singaraja.

Baca juga :  Angin Kencang Juga Robohkan Rumah

Menurutnya, selain ahli waris yang dirugikan, pelayanan administrasi masyarakat dari tingkat kelurahan, kecamatan, notaris hingga BPN merasakan getahnya. “Mereka harus menjadi saksi di pengadilan akibat kebohongan terdakwa,” imbuhnya.

Kasus ini sudah terdaftar di Pengadilan Negeri Singaraja tanggal 13 Juli 2020 dengan No. Perkara : 111/pid.B/2020/PN.Sgr. Padahal Henry Sianto selaku ahli waris (anak dari alm. Siantara Budiana) bermaksud menyelesaikannya secara kekeluargaan. “Dua kali kita somasi, yaitu tanggal 14 Mei dan 14 Juni 2018, namun itikad baik kami tak mendapat tanggapan. Maka kita pun tempuh jalur hukum,” tegasnya.

Baca juga :  Pemindahan Karantina 10 Pasien Asal Buleleng Masih Dikoordinasikan

Ditambahkan, proses persidangan berlangsung dari, 23 Juli 2020 hingga putusan pada, 2 Oktober 2020 dipimpin
Hakim Ketua, AA Sagung Yuni Wulantrisna,SH., dan anggotanya I Made Gede Trisnajaya Susila, SH.MH., dan AA Ayu Merta Dewi, SH.MH. Panitera pengganti, Gede Arta Wijaya, SH., dengan terdakwa Ayu Sri Handayani (52) yang berasal dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula. Sedangkan JPU Isnarti Jayaningsih, SH., dan Made Juni Artini,SH.
Pasal 263 KUHP ayat 1 dan ayat 2 yang masing-masing memiliki ancaman hukuman 6 (enam) tahun penjara seolah-olah tak bertenaga. Di mana pihak JPU menuntut terdakwa dengan 8 bulan penjara.

Baca juga :  Hasil Tes Swab Pedagang Negatif, Tidak Ada Pembatasan Sosial di Desa Bondalem

Selanjutnya hakim menjatuhkan vonis pidana penjara 4 bulan dengan masa percobaan 8 bulan terhadap terdakwa.
“Pemalsuan dokumen waris ini seharusnya dipandang sebagai hal yang sangat serius karena menyangkut sejarah seseorang yang berusaha dihilangkan kebenaran identitasnya di mata hukum. Dari peristiwa pemalsuan ini, disinyalir secara sistematis dengan niat untuk merampas hak-hak orang lain. Dan kedua anak terdakwa seharusnya tidak berhak mewarisi aset-aset milik almarhum karena menurut Hukum Negara, seseorang yang memiliki akta ibu hanya memiliki ikatan hukum dengan ibunya saja,” tandasnya.(118)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini