Akan Digelar ‘’Pecaruan’’ di Rumah Warga yang Tertimpa ‘’Bade’’

0
11
Konsep Otomatis
TERTIMPA BADE - Rumah milik I Nyoman Lekik di Desa Adat Keliki Kangin, Tegalalang, Gianyar, yang tertimpa bade pada Minggu (25/10). (DenPost/ist)

Pasca-bade tingkat sembilan roboh  menimpa rumah warga di Desa Adat Keliki Kangin, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, pada Minggu (25/10/2020), pihak adat setempat memutuskan agar rumah itu disucikan melalui upacara pecaruan. Prosesi upacara ini terutama dari segi biaya akan ditanggung oleh keluarga pemilik bade.

KETUA Panitia Palebon, Ngakan Pramono, Senin (26/10/2020)  mengatakan robohnya bade tersebut murni musibah yang tak semua orang bisa memprediksinya. Dikatakan pula bahwa bade itu dibeli dari undagi asal Blahbatuh, Gianyar. Undagi itu sudah biasa mengerjakan bade setiap kegiatan ngaben di rumahnya.

Misalnya tahun 1997 saat pengabenan seorang nenek, undagi ini juga yang membuat bade-nya. Tahun 2018, saat orangtua Ngakan Pramono di-palebon, juga undagi inilah yang membuat bade.

Baca juga :  Dikira Penyu, Ternyata Jenazah Bayi Tanpa Kepala

Bahkan sejak puluhan tahun menjadi undagi, kasus bade roboh seperti pada Minggu lalu, baru pertama terjadi. “Ini di luar kendali dan secara teknis, undagi sudah ahlinya,” tegas Pramono.

Dia juga menyebut bahwa undagi ini punya hubungan baik dengan Ngakan Gede Padma (alm). Pembuatan bade itu sekaligus sebagai bentuk penghormatan untuk almarhum. ‘’Dulu yang memesan bade kepada undagi ini adalah almarhum,’’ beber Pramono.

Mengenai rumah milik I Nyoman Lekik yang yang tertimpa bade, Ngakan Pramono mengaku tak korban jiwa dan kerusakan berarti. Namun pihaknya sudah menggelar pertemuan dan akan ada pecaruan di rumah tersebut. Pihaknya juga tak kecewa akan hasil karya undagi tersebut. “Kami sudah melupakan insiden tersebut. Kami yakin tidak ada kesengajaan. Apalagi hubungan almarhum dengan undagi ini sangat baik,” tegasnya.

Baca juga :  Perahu Terbalik, Satu Korban Hilang

Bendesa Keliki Kangin I Made Sudiasa menambahkan bahwa sesuai hasil rapat dengan prajuru pada Minggu (25/10) malam, disepakati akan ada upacara pecaruan di rumah warga yang tertimpa bade. Mengenai jadwal waktu dan bentuk upacara pecaruan-nya, Sudiasa mesti menanyakan ke ida pedanda. Prosesi pecaruan dan biayanya bakal ditanggung pihak keluarga almarhum. Dalam hal ini prajuru Desa Adat Keliki Kangin beserta empat kelian banjar, bendesa, dan perbekel, nanti hadir dalam upacara sebagai saksi.

Di tempat terpisah Kapolres Gianyar AKBP Dewa Made Adnyana menyatakan bahwa keramaian dalam kegiatan keagamaan saat pandemi ini boleh dilakukan, namun orangnya harus dibatasi serta sesuai dengan prokes. “Penyelenggara sudah berkoordinasi dengan Muspika Tegallalang  dan sudah sesuai dengan prokes. Cuman karena bade roboh, maka hal itu menjadi perhatian sehingga warga mendekat, dan terjadi kerumunan dalam proses evakuasi,” tegasnya.

Baca juga :  Putra Sekda Gianyar Terpapar, Kantor Diskominfo Tutup Sementara

Disinggung soal yang pengusung bade, Kapolres menyebut bahwa dalam pertemuan diseting sebanyak 50 orang dengan sistem estafet. Pengusung pertama diganti dengan pengusung berikutnya. Mereka yang sudah dapat mengusung bade langsung pulang untuk menghindari kerumunan.

Namun begitu mendengar kabar ada musibah bade roboh, sejumlah warga yang sebelumnya mengusung, segera datang ke tempat untuk proses evakuasi. (yul)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini