Awasi Hutan, TBBB Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial

0
8
Awasi Hutan, TBBB Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial

Denpasar, DenPost
Kepala Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Agus Ngurah menerima kunjungan tim survei lapangan pemerintah pada Sabtu (24/10/2020). Tim ini merupakan lintas kementerian yang terdiri dari perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Badan Siber dan Sandi Negara, Badan Intelijen Negara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bersama tim teknis Huawei. Mereka melakukan penjajakan kerja sama proyek rintisan (pilot project) CSR Huawei dalam program ‘’Tech4All, Smart Forest Guardian’’ (pengawasan hutan dengan kecerdasan artifisial atau AI) yang diproyeksikan dibangun di kawasan TNBB.

Siaran pers yang diperoleh DenPost.id menyebut kegiatan ini merupakan tidak lanjut Kemenko Marves bersama Kemenkominfo, KLHK, BPPT, BIN, BSSN, serta Huawei pada rapat koordinasi peningkatan pengawasan kawasan hutan secara virtual pada Selasa (6/10/2020).
Kepala TNBB drh. Agus Ngurah Krisna Kepakisan, M.Si., menyambut baik rencana kerja sama ini. “Kehadiran teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection ini bermanfaat dalam membantu kami melindungi hutan, khususnya di TNBB dengan satwa endemik jalak bali yang juga merupakan satwa dilindungi karena tergolong langka,” pungkasnya.

Tim survei juga berkesempatan menerima arahan dari Wakil Menteri (Wamen) LHK Alue Dohong yang melakukan kunjungan kerja ke TNBB. Alue Dohong meninjau penangkaran burung jalak bali dan melakukan pelepasliaran jalak bali pada Jumat (23/10/2020). Jalak bali merupakan satwa endemik Bali yang menjadi maskot TNBB. Keberadaannya di habitat aslinya hanya tinggal beberapa ratus ekor. Bahkan sempat nyaris punah akibat perburuan liar.

Baca juga :  Respons Pembakaran Bendera PDIP, Koster Pimpin Pelaporan ke Polda Bali

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno juga memberikan arahan kepada tim survei pada Sabtu (24/10/2020). Wiratno menjelaskan bahwa saat ini KLHK juga memanfaatkan teknologi untuk pengawasan satwa. “Saat ini sudah pakai camera trap dan GPS collar untuk memantau gajah sumatera.” tegas Wiratno.

Teknologi ini diharapkan membantu pengamanan dan pengawasan hutan dari illegal logging, illegal mining, illegal poaching, pemantauan satwa, wisata alam, serta pengayaan dan pemanfaatan data kehutanan. Wiratno menambahkan kini Indonesia memiliki 54 taman nasional, dan sebagian di antaranya merupakan situs warisan dunia (World Heritage) UNESCO. Indonesia memiliki koleksi 400 spesies burung endemik. Hingga dapat dikatakan terbanyak di dunia. Artinya ada 400 jenis burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia. Salah satunya jalak bali yang hanya bisa ditemukan di TNBB.

Baca juga :  Satpol PP Tegur Warga Tak Pakai Masker

Wiratno menjelaskan bahwa baru-baru ini pihaknya bekerja sama dengan komunitas burung dan SwisS Winasis, telah menerbitkan buku Atlas Burung Indonesia. Memanfaatkan teknologi AI, keragaman suara satwa rencananya dikelola dalam virtual sound museum. “Melalui teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection, kita membuat virtual sound museum yang berisi suara-suara yang tertangkap dari alat yang akan dipasang di hutan,” tandasnya.

Menko Marves Luhut B.Pandjaitan, yang memimpin rakor, mengatakan bahwa peningkatan kawasan hutan menjadi hal yang utama. Dengan memanfaatkan teknologi Huawei, pihaknya dapat langsung memantau perekaman data melalui suara guna dapat membuat data yang lengkap mengenai aktivitas hutan di Indonesia. “Dengan teknologi tersebut, kita dapat mencegah aktivitas ilegal yang terjadi di hutan kita. Kami minta kepada Huawei dan seluruh kementerian serta lembaga terkait agar mengharmonisasi sistem dan data yang akan dikembangkan untuk menjadi lompatan yang luar biasa dalam pengawasan aktivitas ilegal di hutan di Indonesia,” bebernya.

Baca juga :  Masuk Bali, WNA Harus Bawa Ini

Sehubungan dengan pemanfaatan teknologi yang dikembangkannya untuk tujuan preservasi lingkungan ini, CEO Huawei Indonesia Jacky Chen mengatakan sebagai penyedia TIK terkemuka di dunia, yang 20 tahun hadir di Indonesia, Huawei berkomitmen terus mendukung Indonesia dalam mengantisipasi tantangan dan peluang melalui pemanfaatan teknologi. ‘’Selama masa pandemi, kami juga mengontribusikan teknologi kecerdasan arfisial (AI) dan cloud bagi dunia kesehatan dan pendidikan. Merupakan kebanggaan bagi kami dapat memperluas kontribusi hingga menjangkau bidang lingkungan hidup di Indonesia melalui inisiatif global untuk inklusi digital TECH4ALL yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Huawei dalam pemberdayaan teknologi digital bagi lingkungan, pendidikan dan kesehatan,” tegasnya.

Huawei berkolaborasi dengan lembaga nirlaba (NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian menggunakan teknologi AI untuk melindungi hutan dari pembalakan dan perburuan liar, serta upaya konservasi alam di TNBB. Rainforest Connection telah menggunakan teknologi ini di hutan hujan tropis Kosta Rica, Filipina, dan beberapa negara lain. (wir)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini