Di Masa Pandemi, Peternak Bebek Petelur di Klungkung Masih Bertahan

Picsart 11 05 07.24.00
BETERNAK BEBEK - Di masa pandemi Covid-19, Made Sumarta masih tetap bertahan beternak bebek petelur.

Semarapura, DENPOST.id

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap sektor pariwisata, tetapi juga dunia usaha. Seperti halnya peternak bebek petelur di Dusun Lepang, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Sejak enam bulan lalu, para peternak bebek harus berjuang keras agar tidak gulung tikar. Bahkan demi menutupi kerugian, para peternak harus merelakan menjual bebek peliharaannya.

Salah seorang peternak bebek, Made Sumarta, Kamis (5/11/2020) mengakui kalau sudah enam bulan penjualan telur bebek menurun drastis. Salah satu pemicunya karena upacara keagamaan yang biasanya memerlukan banyak telur kini dibatasi. Kondisi itu juga diperparah dengan banyaknya saingan yang datang dari Jawa.

Baca juga :  Di tengah Pandemi Covid-19, Adiwana Warnakali Buka Resorts di Nusa Penida

“Penyebab tidak hanya karena Covid-19, tetapi juga karena ada telur datang dari Jawa. Hal itu, membuat harga telur di Bali tidak stabil,” ungkapnya.

Dalam sehari, bebek-bebek peliharaan Sumarta bisa memproduksi 1.200 sampai 1.500 butir telor. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, telur-telur tersebut selalu habis terjual di Pasar Galiran, Klungkung maupun pasar tradisional yang ada di Kabupaten Gianyar. Namun kini, situasinya berubah, permintaan pasar menyusut dan harga jual telurpun anjlok.

Baca juga :  Pengiriman Barang ke Nusa Penida Melonjak, Ini Penyebabnya

“Sekarang harga telur bebek Rp1.700 sampai Rp1.800 perbutir. Bahkan sempat turun mencapai Rp1.200 perbutir pada beberapa waktu lalu. Padahal harga normal sebelum Covid-19 bisa Rp2.200 sampai Rp2.500 perbutir,” ujarnya.

Menurut Sumarta, jika harga telur bebek di bawah Rp1.500 perbutir, sudah dipastikan para peternak akan mengalami kerugian. Apalagi saat ini harga pakan masih tinggi, yakni Rp400 ribu persaknya. Itupun pembelian dilakukan di luar Bali, yakni dari Sumbawa atau Jawa, sehingga jika harga telur di bawah standar maka para peternak tidak bisa menutupi biaya operasional.

Baca juga :  Komisi II DPRD Klungkung Sorot Basement Puskesmas Banjarangkan II

Meski demikian, Sumarta masih tetap berupaya untuk mempertahankan usahanya tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar kerugian tidak semakin melebar. Salah satunya dengan menjual bebek-bebek yang sudah afkir. Di samping itu, telur-telur yang tidak laku juga didiamkan untuk ditetaskan. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini