Mantan PMI Ambil Peluang Ukir Buah-buahan

0
6
Picsart 11 06 06.56.22
UKIRAN BAHAN BUAH - Seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI), I Ketut Alit Semara Putra, membuat ukiran berbahan buah-buahan.

Gianyar, DENPOST.id

Salah seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI), I Ketut Alit Semara Putra asal Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar memiliki hobi mengukir buah. Meski di tengah pandemi Covid-19 saat ini, dia tetap berinovasi dan berkreasi dengan membuat ukiran buah.

Pria ini tahu dan mengambil momen acara pernikahan maupun seremonial lainnya. Mengukir buah telah dia tekuni sejak delapan tahun lalu, sebelum dia sempat berangkat ke luar negeri untuk bekerja sebagai PMI.

Lelaki 27 tahun ini, menjelaskan memilih mengukir buah pada awalnya untuk menyalurkan hobinya. Lantaran dirasa lebih mudah menggunakan media buah, membuatnya terus berlatih hingga terbiasa membuat ukiran buah di setiap tetangganya menggelar acara pernikahan sebagai dekorasi. Dia pun mengaku belajar sejak delapan tahun yang lalu. “Awal membuat itu, ada delapan tahun lalu. Saya pilih mengukir di buah karena media buah lebih cepat jadi dan lebih cepat dikerjakan,” kata Alit Semara Putra, Jumat (6/11/2020).

Baca juga :  Januari, Pasar Desa Bona Siap Beroperasi

Dalam kesempatan itu, pria alumnus SMA Negeri 1 Tegallalang ini menyampaikan buah yang biasanya diukir lebih dominan menggunakan buah semangka, labu, pepaya, wortel, lobak dan bitroot. Itu digunakan lantaran dalam proses pembuatannya yang lebih mudah dan dicari bahannya lebih muda. Selain itu, dari buah tersebut memang lebih mudah dan memadukan warna maupun corak ukirannya. “Untuk bentuk tergantung permintaan, biasanya ada yang minta bentuk wajah, bentuk burung, hewan hingga bunga dan sebagainya. Yang memesan biasanya orang yang memiliki acara, seperti pernikahan atau party (pesta) di hotel- hotel. Sedangkan kendalanya sempat di acara pernikahan atau yang melibatkan undangan banyak, untuk membuat yang seperti diinginkan harus menyambung buah agar mendapat hasil maksimal, dan waktu pengerjaannya  juga harus malam hari agar pada saat acara buah terlihat segar,” tandasnya.

Baca juga :  Temukan Pelanggar Masker, Tim Gabungan Gianyar Berikan Sanksi Ini

Disinggung masalah harga?, Alit sendiri tidak mematok harga pasti karena harganya tergantung dari seberapa besar permintaan dari yang pesan. Biasanya dia memberi harga Rp300 ribu sampai Rp1 juta, dengan buah yang dia sediakan langsung. Jika pun buah disediakan oleh yang pesan, Alit mengaku untuk harga tidak masalah baginya. Terpenting dalam proses pembuatannya dia dapat menuangkan karya seninya melalui ukiran tersebut. (116)

Baca juga :  Diduga Jalan Licin, Mobil Terjungkal di Jalan

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini