Tatanan Hidup Baru, Perajin Batok Kelapa Waliang Mulai Terima Order

0
18
Tatanan Hidup Baru, Perajin Batok Kelapa Waliang Mulai Terima Order
BATOK KELAPA - Desak Gede Ratni saat membuat bokor batok kelapa di rumah produksinya, di Banjar Waliang, Abang, Karangasem.

Amlapura, DENPOST.id

Lima bulan tak dapat pesanan akibat pandemi covid-19, perajin bokor batok kelapa di Banjar Waliang, Desa Abang, Karangasem, Desak Gede Ratni (40), akhirnya kembali berproduksi. Kebijakan pemerintah dalam menerapakan tatanan kehidupan baru sejak Agustus lalu memberi angin segar bagi Desak Gede. Usaha yang dirintis sejak 8 tahun, mulai kembali kebanjiran order sejak penerapan kebijakan tersebut.

“Semula selama 5 bulan saya benar-benar tidak ada pesanan. Ditambah satu anak saya yang bekerja di salah satu restoran dirumahkan akibat pandemi covid-19,” cerita Desak Gede saat ditemui, Rabu (18/11/2020). Sempat putus asa, harapannya akhirnya kembali pulih saat pemerintah mengeluarkan kebijakan tatanan kehidupan baru, di mana masyarakat kembali diizinkan beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Salah satunya aktivitas upacara agama. “Sejak Agustus lalu orderan mulai masuk. Bahkan nyaris seperti normal sebelum covid-19,” ungkapnya.

Baca juga :  Salurkan Bantuan Sosial, BUMN Akui Tetap Perhitungan

Mengajak anaknya yang dirumahkan, belasan ibu rumah tangga serta anak-anak sekitar mengisi waktu selepas belajar online, Desak Gede mengajak warga di sekitarnya produktif. Agar tak menimbulkan kerumunan di tengah pandemi, ia membebaskan karyawannya untuk bekerja di rumah. “Jadi bahan bakunya bisa diambil di sini, bekerjanya di rumah,” jelasnya.

Dalam sehari, ia bisa mendapat orderan belasan bokor batok kelapa dengan berbagai ukuran. Harganya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 150 ribu satu buahnya. “Biasanya suplayer langsung ambil ke sini. Kadang saya antar ke pedagang pasar yang sudah order,” bebernya.

Baca juga :  BKSDM akan Panggil Kepsek yang Diduga Tak Netral

Untuk bahan baku, dia datangkan dari Buleleng. Produktivitas Desak Gede makin terbantu di tengah musim kemarau. “Selain lebih mudah mendapatkan bahan baku saat kemarau, ini kan juga ada proses jemurnya. Jadi musim panas juga membantu dalam proses produksi,” imbuhnya.

Ia bersyukur, di tengah pandemi covid-19 usahanya masih dapat bertahan. Dengan menerapkan protokol kesehatan, ia juga bersyukur dapat mengajak orang sekitar untuk produktif. (yun)

Baca juga :  Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh Berlangsung Khusyuk

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini