Cegah Kerumunan, Peringatan Puputan Margarana Digelar Sederhana

0
7
Picsart 11 20 07.30.42
TABUR BUNGA - Wagub saat tabur bunga di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Kamis (20/11/2020).

Tabanan, DenPost

Peringatan Hari Puputan Margarana, Jumat (20/11/2020) tetap berlangsung saat pandemi Covid-19. Peringatan yang dipusatkan di Taman Pujaan Bangsa, Margarana, Tabanan dipimpin Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace didampingi Wakapolda Bali Brigjen Pol I Wayan Sunartha.

Peringatan tersebut menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Guna mencegah kerumunan, kegiatan dihelat sederhana dan jumlah peserta dibatasi. Kegiatan itu, turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali dan pimpinan OPD pemprov itu tetap berlangsung khidmat.

Baca juga :  KSU Pemogan Gelontorkan 1.258 Paket Kebutuhan Pokok Kepada Anggota

Ziarah dan tabur bunga di makam 1.372 itu, menjadi simbol penghormatan bagi para pahlawan yang telah memerdekakan Indonesia, dan Bali khususnya. Wagub saat itu juga meletakkan karangan bunga di candi utama atau yang juga disebut dengan Candi Pahlawan Margarana.
Konon, candi utama ini merupakan lokasi gugurnya Pahlawan I Gusti Ngurah Rai.

“Kegitan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang bertaruh nyawa untuk merebut kemerdekaan yang sekarang kita nikmati,” ujarnya.

Selain mengenang dan memberi penghormatan, dia mengajak masyarakat untuk meneladani semangat para pejuang pantang menyerah untuk membela kedaulatan tanah air.

Baca juga :  Soal Penundaan Pilkada, KPU Denpasar Tunggu Arahan Pusat

Cok Ace mengisahkan Puputan Margarana adalah peristiwa pertempuran habis-habisan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda. Pertempuran itu, terpusat di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan pada 20 November 1946 atau 74 tahun silam. Meski digempur habis-habisan oleh pasukan Belanda dengan kekuatan penuh dan persenjataan modern, sosok pahlawan I Gusti Ngurah Rai tak menunjukkan rasa gentar dan terus membakar semangat pasukannya.

Baca juga :  Air Baku Keruh, Pelayanan Air Bersih di Denpasar Terganggu

Karena jumlah pasukan dan persenjataan Belanda yang jauh di atas angin, pasukan Ciung Wanara terdesak ke wilayah terbuka di area persawahan dan ladang jagung di kawasan Kelaci, Desa Marga. Dalam kondisi terdesak, semangat I Gusti Ngurah Rai tak jua padam. “Beliau memekikkan kata Puputan (bertempur habis-habisan) yang membuat pasukannya makin bersemangat. Dalam pertempuran habis-habisan itulah I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya gugur. Ngurah Rai gugur sebagai ksatria di usia 29 tahun dan dimakamkan di Taman Pujaan Bangsa Margarana,” tutupnya. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini