Sengketa Lahan Pelaba Pura Berakhir Damai

0
4
Picsart 11 22 06.59.26
SEPAKAT DAMAI - Bupati Gianyar, Made Mahayastra, saat nenunjukkan penandatanganan kesepakatan damai antara Desa Adat Pakudui dan Krama Tempek Pakudui Kangin di halaman Kantor Bupati Gianyar, Minggu (22/11/2020).

Gianyar, DENPOST.id

Sengketa lahan pelaba pura antara krama Tempek Pakudui Kangin dengan Desa Adat Pakudui, Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar yang bergejolak sejak yahun 2012 kini berakhir damai. Kedua belah pihak sepakat damai dengan menandatangani kesepakatan perdamaian.

Kesepakatan damai dihadapan Bupati Gianyar, Made Mahayastra beserta beserta jajaran di halaman Kantor Bupati Gianyar, Minggu (22/11/2020).

Nampak hadir kedua tim kuasa hukumnya. Kesepakatan damai diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Padmasana Kantor Bupati Gianyar. Turut hadir Wakil Bupati Gianyar, AA Gde Mayun; Sekda Gianyar Made Gede Wisnu Wijaya; Ketua DPRD Kabupaten Gianyar, Wayan Tagel Winarta; Kapolres Gianyar AKBP Dewa Made Adnyana, PHDI, MDA, Camat Tegallalang, Perbekel Kedisan, dan sejumlah tokoh kedua belah pihak.

Baca juga :  Zaman Kali Yuga, Begini Jalan Selamat Menurut Lontar Catur Yuga

Terdapat delapan poin kesepakatan damai, yakni Pakudui Kangin sepakat mencabut upaya hukum banding perlawanan pihak ketiga di Pengadilan Tinggi Denpasar terhadap putusan PN Gianyar, Pakudui Kangin sepakat mencabut gugatan bantahan, Desa Adat Pakudui dan Tempek Pakudui Kangin sepakat melaksanakan eksekusi secara damai, terkait objek sengketa para pihak tunduk dan patuh pada amar putusan PN Gianyar yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kedua belah pihak sepakat terkait hal yang belum diatur akan dimusyawarahkan dengan menjunjung tinggi prinsip paras paros sarpanaya, pihak Desa Adat Pakudui bersedia menerima kembali pihak Tempek Pakudui Kangin tanpa syarat, sehingga Desa Adat Pakudui dan Tempek Kangin menjadi satu kesatuan Desa Adat. Selanjutnya pada poin ketujuh disebutkan kedua belah pihak sepakat melakukan revisi awig-awig secara bersama-sama sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat dengan pendampingan dari Pemkab Gianyar dan Majelis Desa Adat Kabupaten Gianyar.

Baca juga :  Hindari Penyimpangan Dana Covid-19, Kejari Gianyar Beri Pendampingan Hukum

Selama proses penyatuan kembali Desa Adat Pakudui melalui revisi awig-awig, para pihak melaksanakan aktivitas adat dan keagamaan masing-masing. Terakhir, poin kedelapan seluruh poin kesepakatan perdamaian ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Jika salah satu dari poin ini tidak dilaksanakan maka kesepakatan perdamaian ini menjadi batal atau menjadi tidak mengikat.

Kesepakatan damai ini ditandatangani lima perwakilan Desa Adat Pakudui, yakni I Ketut Karma Wijaya, I Wayan Puaka, I Wayan Pastika, I Made Tileh dan I Nyoman Adi Santosa. Sedangkan dari pihak Tempek Pakudui Kangin ditandatangani I Wayan Subawa, I Made Narka, I Made Karsa, I Wayan Seraya, I Wayan Dina Antara. Sementara sebagai saksi dari Pemkab Gianyar, I Dewa Gede Alit Mudiarta, Sekretaris Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Kabupaten Gianyar, I Dewa Gede Putra Amarta dan Ketua Majelis Desa Adat Kabupaten Gianyar, Drh. Anak Agung Alit Asmara.

Baca juga :  Mantan kepala BPN Denpasar-Badung Meninggal Dunia, Tembak Diri di Toilet

Bupati Gianyar, Made Mahayastra dalam kesempatan itu mengaku bersyukur pada akhirnya sengketa lahan yang terjadi belasan tahun bisa tuntas di era kepemimpinannya. Bupati Mahayastra juga memuji kinerja Polres Gianyar dalam menjaga kondusivitas kasus ini. “Ini yang kita nanti-nantikan sejak lama. Akhirnya terjadi hari ini (Minggu-red) di Kantor Bupati Gianyar,” kata Bupati Mahayastra.(116)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini