Terapkan Jargon STOP, Buleleng Klaim Kasus HIV/AIDS Melandai

0
5
Picsart 12 01 06.51.33
Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra.

Singaraja, DENPOST.id

Dengan menerapkan jargon Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Kabupaten Buleleng mengklaim berhasil menekan angka penularan virus HIV/AIDS. Pada tahun 2020, kasus yang terjadi cukup landai dengan total keseluruhan 2.700 kasus.

“Tidak terjadi lonjakan yang serius, kita masih bisa menekan kasusnya. Dalam satu tahun terakhir hingga Bulan Oktober 2020 angka penyebarannya hanya di bawah 200. Itupun juga banyak kasus yang tertular di luar wilayah Kabupaten Buleleng. Tapi karena KTP nya dari Buleleng, kita masukkan di daerah Buleleng,” ujar Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, Selasa (1/12/2020).

Baca juga :  Pandemi, Seniman di Buleleng Gelar Pentas Virtual

Penyuluhan harus tetap dilakukan,) untuk memberikan pengertian kepada masyarakat sebenarnya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) itu jangan dijauhi. Karena penularannya diketahui dari hubungan seksual yang tidak sehat, melalui cairan lendir dan juga jarum suntik. Hal tersebut harus tetap disosialisasikan.

“Kita harus memberikan pengertian bahwa tidak boleh takut dengan penderitanya. Tetapi takutlah dengan penyakitnya. Karena HIV/AIDS ini dapat dicegah dan dikendalikan salah satunya dengan mengadakan sosialisasi ataupun penyuluhan,” jelas Sutjidra.

Baca juga :  Petisi Bebaskan Tersangka Ngaben Sudaji Terus Bertambah

Khusus untuk ibu hamil, lanjut Sutjidra, akan dilakukan tindakan awal oleh petugas kesehatan ketika melakukan pemeriksaan kondisi kehamilan. Akan dilakukan tes Voluntary Counseling and Testing (CVT). CVT tersebut merupakan tes yang dilakukan untuk mengetahui status HIV. Jika CVT-nya reaktif akan dilakukan perlakuan khusus sebagai langkah lanjutannya.

“Misalkan tidak boleh melahirkan normal, tidak boleh menyusui, sehingga tidak terjadi penularan kepada bayinya. Screening dengan tes CVT ini wajib dan difasilitasi oleh pemerintah. Kami sudah lakukan hal tersebut sejak tiga tahun lalu,” imbuhnya.

Baca juga :  Tak Tahan Cium Bau Bangkai Babi, Puluhan KK di Desa Bila Mengungsi

Khusus di Buleleng, yang rentan terkena virus ini pada usia produktif. Pada kalangan remaja dan dewasa dengan kisaran umur 20 hingga 45 tahun. Upaya penekanan terus dilakukan, sehingga target di bawah dua digit angka dapat tercapai per bulannya. Kebanyakan yang tertular dari wiraswasta. “Yang menjadi hambatan di sini keterbukaan dari mereka. Banyak yang tidak ingin diekspos dan tidak mau mengaku. Mereka menularkan ke orang lain, itu yang menjadi masalah. Hingga kini relawan-relawan kami tetap mengawasi,” tandasnya. (118)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini