Janggal, Tuntutan 10 Bulan Akibat Tantang Duel Usai Dianiaya

0
5
Picsart 12 03 08.26.48
KUASA HUKUM - Merta didampingi Tim Kuasa Hukum saat mengikuti persidangan secara online.

Amlapura, DENPOST.id

Tangannya gemetar dan dengan tatapan pucat, seorang warga asal Banjar Dinas Bebayu, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Karangasem, I Wayan Merta (24) menjadi terdakwa atas kasus pengancaman kepada salah satu temannya Putu Ariawan, saat mengikuti sidang online dari Lapas Kelas IIB Karangasem, Kamis (3/12/2020).

Dalam sidang, Merta mendapat tuntutan 10 bulan penjara dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas kejadian yang telah terjadi 9 bulan lalu. Atas putusan itu, tim pengacara Merta bereaksi. Tuntutan JPU dinilai janggal.

Salah satu tim kuasa hukum terdakwa, Wayan Sukayasa angkat bicara usai persidangan. “Kami membaca kejanggalan tuntutan JPU atas kasus yang menyeret Merta. Kami merasa Merta yang dalam kondisi kurang mampu secara ekonomi perlu diperjuangkan dalam persidangan ini, ” ungkapnya.

Dihimpun dari informasi di lapangan, awal kasus bermula pada, 28 Maret 2020 di Pantai Bebayu, Desa Labasari. Di mana, terdakwa Merta yang sedang mandi di pantai bertemu dengan rekannya yang juga pelapor I Putu Ariawan bersama seorang rekannya yang ingin melaut. Permasalahan bermula dari ketersinggungan Ariawan yang tiba-tiba diangkat tubuhnya ingin dinaikkan ke atas jukung oleh Merta agar diajak rekannya untuk melaut, dengan alasan dengan mengajaknya akan banyak mendapat ikan.

Baca juga :  Seluruh Akses Jalan ke Rendang Ditutup

Tersinggung dengan kata-kata Merta yang merasa dihina, setelahnya Ariawan melakukan penganiayaan pada Merta yang dalam posisi terbaring di pasir lewat menekan lehernya dengan tangan. Dilerai oleh beberapa orang sekitar pantai, Merta akhirnya bereaksi dengan memukul pasir sambil menantang Ariawan duel di wilayah Badung.

“Kejadian tersebut terjadi sangat cepat kurang lebih 5 menit. Sebelumnya Merta telah menjalani sidang tipiring atas kasus penghinaan. Dan Ariawan juga telah dihukum 5 bulan penjara atas kasus penganiayaan. Namun Merta kembali dilaporkan dengan tuduhan pengancaman dari kata-kata yang diucapkan pasca Ariawan melakukan penganiayaan, ” ungkap Sukayasa didampingi Rai Wirata dan Ida I Dewa Ayu Dwi Yanti.

Baca juga :  Desa Duda Timur Ciptakan Bilik Disinfeksi Sendiri

Lebih lanjut dia menuturkan, Sukayasa bereaksi atas tuntutan JPU karena beberapa sebab. Di antaranya dia menilai tuntutan dinilai tak sesuai dengan kondisi Merta. “Kok dibuat seolah-olah ini kasus baru dari kasus penghinaan yang telah selesai. Sehingga Merta dianggap mengulangi perbuatan. Padahal ini kan masih jadi satu kasus, ” ungkapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendapat keterangan saksi yang tak sesuai dengan apa yang diucapkan Merta. “Merta tak ada bernada mengancam, dia hanya menantang duel itu juga atas reaksi seusai ia dianiaya, ” imbuhnya. Tak hanya itu, tuntutan tersebut juga dianggap tak pantas, sebab tak ada bukti atas pengancaman yang dilakukan Merta.

Baca juga :  Lagi, Satu Pasien di Karangasem Dalam Pemantauan

“Masukan saya, kenapa tuntutan jaksa sama dengan tuntutan maling yang cukup bukti dan unsurnya masuk, sedang kasus terdakwa merta tidak ada barang bukti. Selain itu, sebelum sidang tuntutan Merta ada sidang tuntutan pencurian burung dengan tuntutan yang sama 10 bulan. Sangat disayangkan mengapa bisa sama, padahal jelas-jelas Merta alias Cecep tidak ada barang buktinya,” kritiknya.

Membela Merta, bahkan tim pengacara secara sukarela ingin memperjuangkan keadilan untuk Merta. “Kami tidak dibayar, Merta warga yang kurang mampu, kehilangan pekerjaan dari dampak Covid-19, dan harus menghidupi istri dan seorang anak. Di samping itu, ia menerima ketidakadilan atas tuntutan yang tidak sesuai. Sehingga kami akan berjuang untuk keadilannya, ” tegasnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini