Sempat Buron, Pemalsu dan Notaris Dijebloskan ke Rutan Gianyar

0
7
Picsart 01 12 09.26.09
KASUS PEMALSUAN - Kepala Seksi Penerangan Hukum, A. Luga Harlianto (dua dari kiri) didampingi Kajari Gianyar, Ni Wayan Sinaryati, saat menyerahkan dua orang terpidana kasus pemalsuan ke Rutan Klas IIB Gianyar. 

Gianyar, DENPOST.id

Setelah lama menjadi buronan daftar pencarian orang (DPO) pihak kejaksaan, akhirnya terpidana Asral Bin Muhamad Sholeh alias Asral terpidana kasus pemalsuan surat jual beli saham PT. Bali Rich, Ubud, Gianyar senilai Rp38 miliar berhasil ditangkap di Batam.

Setelah ditangkap, Asral langsung digelandang ke Bali dan dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Gianyar. Selain Asral, Jaksa juga menjebloskan terpidana Hartono seorang Notaris yang ikut terlibat dalam kasus ini, karena menyerahkan diri kepada Jaksa Kejari Gianyar, Senin (11/1/2021).

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Bali, A. Luga Harlianto, Selasa (12/1/2021) mengatakan Jaksa Penuntut Umum Kejari Gianyar melaksanakan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 555 K/Pid/2020 tanggal 30 Juni 2020 terpidana Asral Bin H. Muhamad Sholeh dengan pidana penjara 4 tahun dan 6 bulan dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 534 K/Pid/2020 terpidana Hartono dengan pidana penjara selama 4 tahun di Rutan Gianyar.

Baca juga :  Disambar Petir, Candi Bentar Pura Durga Kutri Rusak

Terpidana pemalsuan surat-surat Vila senilai Rp38 miliar ditangkap petugas di Batam. Kemudian tim Tangkap Buron (Tabur) Kejaksaan Tinggi Bali membawa terpidana Asral dari Jakarta menuju Bali, dengan menggunakan pesawat dan setibanya di Bandara Ngurah Rai langsung membawa terpidana ke Rutan Gianyar.

Sebelumnya, terpidana Asral dibawa tim Tabur Kejaksaan Agung yang menangkap terpidana Asral di sebuah rumah di Perumahan Citra Indah Kota Batam untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta. Terpidana sempat mengecoh pemantauan dari tim Tabur Kejaksaan Agung dengan memesan dua buah tiket kapal laut atas nama Asral untuk berangkat ke Tanjung Balai Karimun. Namun, yang berangkat ke Karimun bukanlah terpidana Asral melainkan dua orang adik keluarganya yang dalam manifes kapal menggunakan nama Asral.

Pada akhirnya, terpidana Asral dapat ditemukan di sebuah rumah di Perumahan Citra Indah Kota Batam. Penangkapan buronan terpidana Asral dibantu Sat Reskrim Polresta Barelang, Minggu (10/1/2021).

Baca juga :  Rawan DB, Lingkungan Asrama Yonif Mekanis 741/GN di Fogging

Sedangkan terhadap terpidana Hartono Senin (11/1/2021) sekitar pukul 15.15 Wita, menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Gianyar. Terpidana Hartono datang ke Kejari Gianyar didampingi keluarga dan penasihat hukumnya. Kemudian Jaksa Kejaksaan Negeri Gianyar bersama terpidana Hartono mendatangi Rutan Gianyar untuk melaksanakan Putusan Mahkamah Agung.
Adapun kondisi terpidana asral dan terpidana Hartono dalam keadaan sehat dan dengan hasil swab negatif pada saat melaksanakan putusan di Rutan Gianyar.

Terpidana Asral dan Hartono merupakan DPO Kejaksaan Tinggi Bali sejak Desember 2020. Terpidana Asral merupakan suami dari terpidana Tri Endang Astuti Binti Solex Sutrisno yang terlebih dahulu diamankan Tim Tabur Kejaksaan Agung bersama Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam dan Tim Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, pada Jumat (8/1/2021). “Terpidana Hartono berprofesi sebagai Notaris di Kota Denpasar merupakan terpidana perkara tindak pidana membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat membuat suatu hak, perikatan atau pembebasan hutang yang diperuntukkan sebagai bukti sesuatu hal seolah-olah isinya benar pada proses jual beli Villa Bali Rich atau PT. Bali Rich Mandiri senilai Rp38 Miliar,” katanya.

Baca juga :  Terjaring Razia Prokes, Belasan Warga Dibina

Dalam kasus pemalsuan surat-surat ini terdapat enam orang terpidana, di mana empay orang di antaranya I Putu Adi Mahendra Putra, Tri Endang Astuti Binti Solex Sutrisno dan Asral Bin H. Muhamad Sholeh dan Hartono telah dilaksanakan eksekusi putusan Mahkamah Agung di Rutan Gianyar. Sedangkan dua orang lainnya, yakni Nugroho Prawiro Hartono dan Suryady belum dilaksanakan eksekusi dikarenakan tidak memenuhi tiga kali panggilan Jaksa Kejari Gianyar untuk melaksanakan putusan Mahkamah Agung. Kedua terpidana telah dijadikan DPO sejak Desember 2020. (116)  

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini