Ini Empat Indikator Mengenal Kondisi Kesehatan Jantung

0
4
Picsart 01 17 03.42.50
Spesialis Jantung di RSUP Sanglah, Dr. dr. I Nyoman Semadi, Sp.B, Sp.BTKV(K)

Sanglah, DENPOST.id

Gangguan terhadap organ jantung atau jantung koroner umumnya akan dialami seseorang yang berusia di atas 40 tahun. Potensi tersebut, semakin tinggi apabila usia seseorang semakin tua. Maka penting sejak awal untuk mengenali kondisi jantung sejak dini. Apa saja indikator untuk mengetahui kondisi jantung?

Menurut Spesialis Jantung di RSUP Sanglah, Dr. dr. I Nyoman Semadi, Sp.B, Sp.BTKV(K), Minggu (17/1/2021) ada empat indikator umum yang dapat dikenali. Pertama, debaran jantung tidak normal dari umumnya.
“Jadi, dalam kehidupan sehari-hari ini kalau tidak ada debaran jantung yang berbeda dengan orang normal, itu normal. Debaran itu maksudnya berdebar cepat sekali atau lemah sekali,” ujarnya.

Baca juga :  Ombudsman Imbau Masyarakat Bali Tak Cemaskan Ini

Kedua, sesak napas. Ketiga batuk dan keempat rasa nyeri di dada bagian kiri. Keempat indikator itu dapat dijadikan acuan apabila berlangsung lama dan mengganggu keseharian. Apabila sesorang mengalami keluhan itu, dia menyarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya. “Terutama ketika kita beraktivitas, kemudian merasa nyeri jantungnya di dada kiri. Itu seperti yang banyak diilustrasikan, kemudian merunduk dan jatuh. Itu namanya penyakit jantung koroner,” terangnya.

Baca juga :  PDIP Pimpin Lima Daerah, Koster Yakin Pembangunan Bali Optimal

Menurutnya, siapa saja dapat mengalami kelainan jantung. Semakin berusia, maka potensinya akan semakin tinggi.
“Prevalensi penyakit jantung umumnya umur 40 tahun. Jadi di atas itu maka akan lebih tinggi lagi. Makin tua ya makin tinggi, termuda pernah kita tangani umur 35 tahun tapi sangat jarang. Nah kalau misalnya dia punya komorbidity, misalnya jantung dan kencing manis, itu akan lebih tinggi risikonya,” terang dr. Semadi.

Baca juga :  Koster Wajibkan PNS Baru Belanja Rp 500 Ribu di "Bali Bangkit"

Lebih dalam dia menjelaskan bahwa jantung koroner dapat meningkatkan potensi seseorang mengalami gagal jantung. Itu, dikarenakan karena terjadi gangguan di pembuluh darah arteri koroner, yakni adanya penyempitan atau pembutuhan yang membuat aliran darah ke jantung tersumbat, sehingga jantung berhenti. “Ini banyak disebabkan faktor makanan terutama makanan berkolesterol. Faktor kepribadian dan tekanan darah yang tinggi. Maka itu yang harus dihindari, salah satunya hindari hipertensi dan rutin olahraga,” pungkasnya. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini