Begini Penjelasan Kepala KPH Bali Barat Soal Banjir Bandang di Jembrana

0
11
Picsart 01 16 03.39.03
BANJIR BANDANG - Banjir bandang terjadi di Sungai Pulukan dan mengakibatkan 15 KK di Banjar Pasar Desa Pekutatan terdampak.

Negara, DENPOST.id

Banjir bandang yang terjadi awal tahun 2021 baik di Sungai Yeh Satang, Desa Medewi maupun Sungai Pulukan, Desa Pekutatan mengakibatkan puluhan KK terdampak. Kondisi ini sudah sempat dicek tim dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Barat. “Tim kami sudah dua kali ngecek ke lokasi. Kayu-kayu yang terdampar di pantai karena terbawa arus memang banyak kami temukan,” jelas Kepala KPH Bali Barat, Agus Sugiyanto, Selasa (19/1/2021).

Pihaknya juga sudah menganalisa karakter kawasan hutan di Jembrana. Banjir bandang menurutnya terjadi karena curah hujan yang tinggi di hulu. Sementara daerah aliran sungai (DAS) panjang dan luas sehingga air meluap di daerah yang lebih datar. “Karakter hutan kita juga curam dan tinggi. Jadi semua muaranya di sungai yang lebih datar dan pantai.  Apalagi jika curah hujan tinggi,” jelasnya.

Baca juga :  Tinggalkan Jabatan, Artha-Kembang Minta ASN Tingkatkan Kinerja

Jembrana katanya memiliki hutan yang luas. Berbeda dengan kabupaten lainnya. “Namanya saja Jimbarwana  artinya hutan yang luas. Di  Jembrana banyak sungai dan alirannya juga sampai Singaraja. Kami sudah  menganalisa karakter kawasan hutan di Jembrana,” katanya.

Dijelaskannya, luas hutan di Jembrana sekitar 38 ribu hektar. Sebagian besar hutan lindung. Setelah ada UU No 23 tahun 2014 ada skat kewenangan hutan. Di mana hutan lindung kewenangan ada di provinsi.

Baca juga :  Dokter Spesialis Hingga Pramusaji Distimulus

“Namun kami harapkan kita semua punya pemahaman yang sama bahwa hutan di Jembrana harus dijaga bersama-sama agar lestari. Sejak ada blok pemanfaatan selain blok perlindungan dan blok khusus serta pemberdayaan. Blok pemanfaatan inilah yang harus dikelola dengan baik. Dengan mengembalikan fungsi hutan kita,” katanya.

Untuk pengelolaan hutan, lanjut Agus, sejatinya sudah tertuang dalam rencana pengelolaan jangka panjang (RPJP) tahun 2018-2027 dan rencana kelola kehutanan  tingkat provinsi tahun 2014-2034. “Jadi di sini kita harus bisa mengelola hutan kita untuk kesejahteraan masyarakat. Potensi hutan di Jembrana cukup besar untuk wisata alam tanpa harus melakukan penggundulan hutan.  Ini yang harus difikirkan ke depan untuk peningkatan APBD Jembrana,” ujarnya.

Baca juga :  Pandemi, Siswi Disabilitas Bisnis Pulsa

Bahkan pihaknya juga mengajak masyarakat pengelola hutan di blok pemanfaatan untuk mengembalikan fungsi hutan dengan menanam pohon jenis majegau dan kwanitan. “Jadi mari kita bersama-sama menjaga hutan dengan baik. Jadikan hutan sebagai potensi bukan ancaman. Demikian juga masyarakat yang tinggal di DAS memperhatikan sempadan sungai untuk menghindari dampak dari banjir,” tegasnya.  (120)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini