Inspektorat Jembrana Akan Audit Dana Subak Tegalgintungan

0
8
Picsart 01 26 07.43.18
Kepala Inspektorat Jembrana, Ni Wayan Koriani.

Negara, DENPOST.id

Dugaan pemakaian dana subak untuk kepentingan pribadi terjadi di Subak Tegalgintungan yang berlokasi di Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Ketua Pemucuk Subak Tegalgintungan
Ketut Jata, bersama anggota subak mengirim surat permohonan auditor ke Inspektorat Jembrana agar dana di subak tersebut diaudit. Apalagi bantuan untuk subak dari pemerintah cukup banyak.

Kepala Inspektorat Jembrana, Ni Wayan Koriani dikonfirmasi, Selasa (26/1/2021) membenarkan pihaknya sudah menerima surat permohonan untuk melakukan auditor dari warga Subak Tegalgintungan, Kelurahan Tegalcangkring. Pihaknya akan segera menindaklanjuti surat tersebut. “Baru besok kami akan turun. Suratnya sudah masuk hari Jumat. Saya baru tadi siapkan tim dan surat tugas. Besok klarifikasi dulu. Kalau sudah selesai klarifikasi kami informasikan,” jelasnya.

Dari informasi, dana subak di Tegalgintungan yang seharusnya digunakan untuk warga subak disaat musim tanam, baik yang bersumber dari pusat, provinsi maupun daerah diduga digunakan untuk kepentingan pribadi.
Krama subak menilai kelian subak tidak transparan. Ketidaktranfaranan tersebut, mulai terlihat dari bantuan pemerintah, baik pusat, provinsi maupun daerah yang jumlahnya hingga ratusan juta rupiah.

Baca juga :  Longsor dan Banjir Terjang Bangli

Kelian subak dinilai tidak menepati janji mengembalikan uang subak sebesar Rp190 juta yang terdiri dari uang sarana produksi (Saprodi) sebesar Rp130 juta yang berasal dari dana Proyek Ketahanan Pangan (PKP), keuntungan Saprodi sebesar Rp20 juta, serta dana Bantuan Keuangan Kusus (BKK) dari provinsi sebesar Rp40 juta sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.

Dikatakan kelian subak sudah membuat surat pernyataan akan mengembalikan seluruh uang yang digunakan secara pribadi sebanyak Rp190 juta pada Desember 2020. Namun, sampai saat ini sama sekali tidak ada etikad baiknya dan mengabaikan semua itu. “Bahkan diundang rapat sama sekali tidak mau menghadirinya,” kata Ketua Pemucuk Subak Tegalgintungan, Ketut Jata

Baca juga :  Kapolda Tegaskan Netralitas Polri dalam Pilkada

Selain uang subak yang diakuinya dengan surat pernyataan, masih ada dana Saprodi (Dana Sri) yang merupakan bantuan dari Provinsi Bali sebesar Rp200 juta sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh warga subak.
Untuk dana Sri, kata dia, dapatnya Rp200 juta dari provinsi. Itu diperuntukkan untuk warga subak. Jika nantinya warga subak panen maka dana Sri itu dikembalikan setengahnya oleh warga subak, sehingga dana Rp200 juta itu tetap tersisa Rp100 juta untuk persiapan dimusim tanam brikutnya, sehingga seluruh warga subak mengharapkan agar aparat yang berwenang segera memeriksa pengurus subak terkait dengan bantuan-bantuan untuk subak.

Baca juga :  Abrasi Rusak Krib Pantai di Delod Berawah

Karena pihak kelian subak tidak punya etikad baik dan tidak transparan, sehingga warga subak bersurat kepada Inspektorat Jembrana tertanggal 24 Januari 2021, yang ditembuskan ke Bupati Jembrana, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Jembrana, Camat Mendoyo, Lurah Tegalcangkring dan Bendesa Adat Tegalcangkring agar hal ini diaudit oleh instansi terkait untuk mendapatkan kejelasan dari dana-dana subak yang mencapai ratusa juta.

Sementara Kelian Subak Tegalgintungan, I Ketut Wirata dikonfirmasi media mengakui dirinya menggunakan uang sebesar Rp190 juta tersebut. Namun uang tersebut masih digunakan oleh krama sekitar Rp180 juta. Wirata juga membantah kalau tidak mau datang saat diundang rapat. Karena tidak ada koordinasi, sehingga dia menghadiri acara lain. (120)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini