Menggugat Gara-gara Dituduh Bikin Perguruan Tinggi Tanpa Izin

0
10
Menggugat Gara-gara Dituduh Bikin Perguruan Tinggu Tanpa Izin
PRAPERADILAN - Sidang praperadilan kasus dugaan pelanggaran prosedur penangkapan, penggeledahan dan penyitaan barang bukti (BB), di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (28/1/2021). (DenPost.id/ist)

Denpasar, DenPost.id

Sidang praperadilan kasus dugaan pelanggaran prosedur penangkapan, penggeledahan dan penyitaan barang bukti (BB), yang dilakukan Polresta Denpasar di Vila Kayumas, Kuta Utara, Badung, pada Desember 2020, memasuki babak baru dengan agenda penyerahan BB dari termohon, di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (28/1/2021)

Sidang yang diketuai majelis hakim I Wayan Sukra Dana itu diawali dengan penyerahan dokumen pembuktian termohon dengan disaksikan pihak pemohon dan majelis hakim.

Usai sidang, termohon yakni Kanit IV Reskrim Polresta Denpasar Reza Pranata kepada wartawan mengatakan bahwa sidang itu dengan agenda duplik dari termohon dan menyerahkan dokumen serta administrasi penyidikan polisi. “Nanti pemeriksaan saksi dan kami punya dua saksi terkait penangkapan, penyitaan dan penggeledahan, tapi kami tidak melakukan itu,” tegasnya.

Sedangkan sidang Jumat (29/1/2021) mengendakan pemeriksaan empat  saksi dari pemohon dan dua saksi dari termohon.

Kuasa hukum  pemohon, I Wayan ‘’Tang’’ Adimawan, mengatakan kasus ini termasuk aneh. Sesuai pasal-pasal yang dituduhkan, pihaknya tidak melihat hubungan antara membuat  perguruan tinggi/sekolah tanpa izin dengan tuduhan penipuan terhadap Nobel oleh pemohon, Agung Mahendra .  “Saya hanya menggugat atas perbuatan polisi melakukan penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan, penyitaan, serta pemeriksaan dan penyitaan surat. Kemudian membawa dan menghadapkan seseorang ke penyidik pada 18 Desember 2020 di Jalan Mertanadi, Desa Kerobokan, Kuta Utara, Badung, oleh polisi selaku termohon,” tegas Adimawan.

Baca juga :  Penuhi Lumbung Pangan, Dua Desa Dibantu Bibit Cabai

Dengan diakuinya perbuatan sebagaimana Pasal 5 Ayat 1b angka 1, 2 dan 4 oleh polisi, maka polisi wajib memperhatikan Pasal 18 KUHAP tentang penangkapan, serta Pasal 33, Pasal 34, dan Pasal 36 KUHAP tentang  penggeledahan dan  penyitaan. Mengingat polisi tidak memperhatikan pasal-pasal tersebut, Tang Adimawan melihat polisi melanggar KUHAP, sehingga pihaknya  mengajukan praperadilan.

Tang Adimawan menjelaskan kronologi singkat kejadian hingga masuk praperadilan terkait tuduhan polisi bahwa Agung Mahendra (pemohon) membuat perguruan tinggi atau sekolah tanpa izin. Padahal Mahendra masih trader muda yang cukup dikenal di Indonesia. Kemampuannya kemudian mengantarkan dia didapuk sebagai pembicara dalam seminar maupun webinar, termasuk webinar sangat bergengsi.

Baca juga :  Tri Nugraha Tembak Diri dengan Pistol

Menyadari akan potensinya, Mahendra ingin berbagi pengalaman kepada kawan-kawannya dengan harapan akan lahir trader-trader muda untuk bekal dalam mencari pekerjaan. “Untuk itu Mahendra membuat komunitas yang diberi nama Indotraderacademy. Anggotanya di Indonesia kurang lebih 2.000,” tegas kuasa hukum pemohon.

Pada 18 Desember 2020, tambah Tang Adimawan, ketika Mahendra sharing, justru dia digerebek dan diajak ke kantor polisi untuk disidik dengan tuduhan membuat perguruan tinggi atau sekolah tanpa izin dan mengeluarkan ijazah. “Tuduhan ini mengada-ada, karena tidak mungkin Indotraderacademy merupakan perguruan tinggi atau sekolah, mengingat anggotanya bergelar doktor, Ph.D, master teknik dan sarjana-sarjana pada beberapa disiplin ilmu,” tegas Tang Adimawan

Baca juga :  Temukan Pembuangan Puing Bangunan Sembarangan, DLHK Denpasar Kerahkan Ini

Menurut dia, tidak mungkin mereka bersekolah dan menerima ijazah pada sekolah yang tidak jelas. Mahendra baru tahu bahwa dia dilaporkan Nobel dengan tuduhan menipu Rp 45 juta. Menanggapi hal tersebut, Mahendra mengatakan bahwa hubungannya dengan Nobel diawali dari keinginan Samuel Kristanto Luan, yang orang tua Nobel, untuk minta pemohon membimbing dan mendampingi Nobel  hingga mampu jadi trader. Untuk itu pemohon diberi jasa Rp 45 juta setelah melalui pendampingan langsung, melalui Zoom, melalui komunikasi grup WA yang khusus dibuat untuk tujuan itu. Pelatihan dan pendampingan dimulai dari 3 Agustus 2020 hingga 3 November 2020. Pendampingan yang diberikan pemohon malah membuat Nobel bisa melakukan trading sendiri dan berhasil mendapat keuntungan sebagaimana yang disampaikan Nobel dalam chat pesan singkat Whatsapp miliknya pada 26 Oktober 2020. (yad)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini