Erat Terkait Saraswati, Pagerwesi Momentum Penebalan Ilmu Pengetahuan Dalam Diri

0
6
Picsart 02 03 02.56.57
PAGERWESI - Masyarakat Buleleng saat melakukan persembahyangan serangkaian Hari Pagerwesi, Rabu (3/2/2021) di pura dalem setempat.

MEMBENTENGI diri dengan ilmu pengetahuan adalah pemaknaan Hari Pagerwesi secara etimologi. Makna itu masih terkait dengan pelaksanaan Hari Saraswati yang berlangsung empat hari sebelumnya. Yakni mengisi diri dengan ilmu pengetahuan adalah upaya sepanjang masa. Dan Pagerwesi merupakan momentum mempertebal ilmu pengetahuan itu.

Pemaparan itu disampaikan Ketua PHDI Kota Denpasar, Nyoman Kenak, pada Rabu (3/2/2021) yang dijumpai di Griya Beraban, Denpasar. “Pagerwesi erat kaitannya dengan Saraswati. Sebelumnya kita juga lewati Banyupinaruh, Soma Ribek, dan Sabuh Emas,” terangnya. Kata dia, makna tentang Pagerwesi juga terangkum dalam lontar Sundari Gama.

Dalam lontar itu dijelaskan, Pagerwesi tiba pada Buda Kliwon Sinta. Pada hari ini disebutkan hari beryoga dengan pikiran terpusat kepada Dewa Siwa sebagai Guru Kehidupan, yang melahirkan segala kehidupan dan tempat kembalinya semua kehidupan. “Dalam lontar Bhuana Gosa, semuanya di dunia ini berasal dari Siwa itu sendiri,” tutur Kenak.

Baca juga :  Jalankan Protap Penjemputan PMI, Denpasar Lakukan Ini

Praktik pemuliaan ilmu pengetahuan pada Hari Pagerwesi ini dapat dilakukan dengan mempersembahkan sesajen. Dalam kehidupan beragama di Bali, Kenak menyebutkan sesajen yang dipersembahkan dengan tingkatan sakasidan atau seikhlasnya. Pada umumnya sesajen wajib dilengkapi sodan, peras daksina, peresikan, dan juga sesayut pageh tuwuh.

“Doa kita adalah ungkapan syukur kepada Hyang Pramesti Guru atau Siwa. Sebab beliau telah menganugerahkan bekal berupa ilmu pengetahuan kepada kita. Selain melalui doa, praktik syukur itu dilakukan dengan menambah ilmu pengetahuan melalui belajar. Tidak ada kata henti untuk belajar. Dengan begitu kita bisa membentengi diri,” ujarnya.

Baca juga :  Fantastis, Denpasar Tambah 20 Kasus Positif Covid-19

Apa praktik penebalan ilmu pengetahuan di masa pandemi? Menurutnya, praktik itu dapat diiplementasikan dengan memahami penyebaran dan pencegahan penularan Covid-19. Dia tak memungkiri saat ini masih ada warga yang belum memahami secara utuh apa itu Covid-19, itu karena masih ditemukan warga yang melanggar protokol kesehatan.

“Pagerwesi juga dimaknai sebagai pemuliaan kepada guru. Di Bali mengenal empat guru, salah satunya Guru Wisesa atau pemerintah,” sambungnya. Kata dia, umat seyogyanya menghargai pemerintah. Salah satunya dalam menangani pandemi dengan menaati penerapan prokes. Contohnya, kata dia, menghindari terjadinya kerumunan di pura-pura umum.

Baca juga :  Di Yayasan Ini, Satu Kilogram Sampah Bisa Ditukar Paket Kebutuhan Pokok

Persembahyangan Pagerwesi menurutnya lebih elok dilakukan di merajan rumah masing-masing. “Saya sendiri, bersama keluarga hanya sembahyang di rumah saja. Tempat tidak jadi masalah. Yang penting pemahaman dan praktik kita memaknai Pagerwesi,” tuturnya. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini