Tampil Virtual, 16 Sanggar Seni Tetap Nikmati Pentas di BBB

0
4
Picsart 02 04 02.16.09
VIRTUAL - Salah satu penampilan kelompok seni dalam gelaran Bulan Bahasa Bali (BBB) 2021, yang dipentaskan secara virtual.

Sumerta, DENPOST.id

Sebanyak 16 sanggar, kelompok seni, yayasan seni sastra secara bergiliran tampil dalam gelaran Bulan Bahasa Bali (BBB) 2021 yang bertajuk “Wana Kerthi: Sabdaning Taru Mahottama”.

Pelaksana Teknis BBB, Made Mahesa Yuma Putra, menerangkan, para sanggar atau kelompok seni tetap mendapat kesempatan manggung meski saat pandemi Covid-19, namun mereka tampil secara virtual.

Mereka menyajikan garapan yang mengacu tema utama yaitu Wana Kerthi. Secara konsep para sanggar ini menampilkan garapan yang isianya diangkat dari sumber-sumber suci yang sarat makna dan pesan moral.

“Menerjemahkan konsep tema tersebut dari berbagai sumber misalnya pustaka lontar, seperti Taru Pramana, Aji Janantaka, terkait Usadha, dan lain-lain, untuk pagelaran ini tidak saja sifatnya menghibur melainkan mampu memberikan pesan atau tuntunan bagi kehidupan masyarakat,” tutur Mahesa saat diwawancarai, Kamis (4/2/2021).

Baca juga :  25 Pasien Positif Covid-19 di Denpasar Sembuh

Pada Rabu (3/2/2021) petang, kata dia, agenda sesolahan seni sastra virtual Bulan Bahasa Bali melalui chanel YouTube Disbud Prov.Bali menampilkan garapan seni berjudul “Men Tiwas, Men Sugih” persembahan Sekdut Bali dan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

Pesan moral begitu kental dalam garapan yang diangkat dari cerita rakyat itu. Garapan yang memadukan unsur teknologi dan aspek seni pertunjukan dalam sebuah “seni virtual” sangat menarik, karena menyajikan berbagai macam unsur seni pertunjukan. Seperti: seni teater, tari, musik ilustratif, tembang, dan lainnya. Meski tampil virtual, para seniman nampak tetap menikmati panggung BBB 2021. “Seni pertunjukan virtual merupakan sebuah alternatif baru dalam sajian seni pertunjukan terkait dengan situasi pandemic Covid-19,” ujar Sutradara, I Gede Tilem Pastika.

Baca juga :  Sekda Akui Kantongi Identitas Warga yang Kontak Erat Dengan Pasien Covid-19

Kata dia, konsep seni pertunjukan ini bukan diaktualisasikan dalam panggung pementasan, tetapi di depan kamera dengan teknik sinematografi. Karya ini divisualisasikan dalam bentuk video, dengan konsep total teater, sehingga dapat memberikan nuansa berbeda dari karya-karya film pendek lainnya.

Semua pemain menggunakan Bahasa Bali, serta mengangkat berbagai macam suguhan paribasa Bali. Di sana ada penciptaan pupuh sesuai dengan rangkaian cerita yang dibawakan. Alur dari karya ini menggunakan alur maju dengan pusat penokohan pada “Men Tiwas dan Men Sugih”.

Menariknya lagi, isi dari cerita yang dibawakan dari karya ini tertuang pada pembagian plot adegan dengan tetap mengacu pada sumber sastra yang diberikan oleh Panitia Bulan Bahasa Bali. Walau demikian, sutradara tampak kreatif dengan memasukan beberapa aspek improvisasi cerita, sehingga garapan ini menjadi sajian yang sangat menarik.

Baca juga :  Hindari Lahan Tidur, Distan Denpasar Bantu Subsidi Pupuk

Karya ini didukung oleh 35 orang yang terdiri dari sutradara, aktor, penari, pemusik, kameramen, editor, hingga crew perlengkapan yang merupakan mahasiswa UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan Anggota Sekdut Bali Performing Arts Community.

Koreografer yakni I Made Wira Ryandika dan Komposer I Wayan Agus Widiastra tampaknya memiliki imajinasi yang sama, sehingga antara tari dan musik iriangan sangat serasi. Iringan musik ataupun vocal dan tempang sangat mendukung setiap gerak pemain dan setiap adegan, sehingga menjadi pertunjukan menarik. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini