Desa Adat Tanjung Bungkak Bangun Papan Nama Beraksara Bali

0
7
Picsart 02 07 12.02.17
TANJUNG BUNGKAK - Papan nama Tanjung Bungkak diposisikan di depan Pura Kahyangan Desa Adat Tanjung Bungkak.

Sumerta Klod, DENPOST.id

Tanjung Bungkak meruapakan desa adat yang berada di Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur ini sejatinya desa tua yang menyimpan banyak sejarah tentang keberadaan seni tradisi di Denpasar dan Bali. Pada era 80-an, desa ini dikenal dengan pementasan tari Kecak yang berlangsung di selatan pura kahyangan.

Waktu berganti, saat ini namanya kalah tenar dengan desa adat tetangganya. Sebut saja Desa Adat Renon. Kondisi itu, dipandang sebagai masalah bagi sejumlah tokoh Tanjung Bungkak, sehingga berinisiatif menguatkan identitas desa dengan membangun papan nama beraksara Bali.

Baca juga :  Jelang PKM di Denpasar, Desa-Kelurahan Perketat Wilayah

“Dulu saat saya kecil, Tanjung Bungkak dikenal banyak orang. Namun kini tak banyak yang tahu di mana itu Tanjung Bungkak. Orang Denpasar lebih mengenal tetangga kami, Desa Adat Renon,” terang Agung Prianta, salah satu warga yang menggagas papan nama Tanjung Bungkak yang diresmikan, Sabtu (6/2/2021) di Denpasar.

Papan nama itu, diposisikan tepat di pertigaan ujung selatan atau di depan Pura Kahyangan Desa Adat Tanjung Bungkak. Unsur semiotika ini diharapkan menguatkan identitas dan keberadaan Desa Adat Tanjung Bungkak. Terhadap semangat itu, Bendesa Tanjung Bungkak, Ketut Suweden tegas mendukung.
“Di sini dulu pusat kesenian yang ada di Bali. Karena saat itu belum ada di tempat lain. Seperti tari Legong dan tari Kecak. Sekarang kita masih melanjutkan jejak sejarah itu, dengan melestarikan seka Arja,” ujarnya.

Baca juga :  Di Masa Pandemi, PKL Diberikan Gerobak Gratis

Dia menilai terpinggirnya nama Tanjung Bungkak disebabkan sejumlah faktor logis. Pertama, pelafalan yang relatif lebih sulit dibanding menyebut Renon, kedua, masih banyaknya usaha di wilayah Tanjung Bungkak yang menerangkan alamat kantornya di Renon. Dengan adanya simbol ini, menurut dia, membangun kepercayaan diri warga untuk mengembangkan potensi-potensi di desa.

Warga lain, Prof. Suli yang juga pemerhati kesenian Bali berharap papan nama ini menjadi contoh bagi desa lain untuk melestarikan aksara Bali. Praktik ini, baginya juga menunjang upaya Pemprov Bali dalam menguatkan identitas Bali yang terangkum dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018.
“Signed bertuliskan aksara Bali ini sangat saya senangi. Ini perlu ditiru desa adat lain untuk melestarikan budaya Bali agar bisa sustain (bertahan),” tuturnya. (106)

Baca juga :  Dilepas Polisi, Pemilik Layangan yang Bikin Gardu Meledak

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini