Kerugian Pertanian Bawang Tergolong Rendah, Distan Usulkan Bantuan ke Pusat

0
2
Picsart 02 09 11.10.01
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunarta

Sumerta, DENPOST.id

Hujan berkepanjangan memberi dampak baik dan juga buruk bagi sektor pertanian di Bali. Demikian dikatakan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunarta, saat diwawancarai Selasa (9/2/2021) di kantornya.

“Secara langsung ada pengaruhnya. Kalau positifnya, kita bisa bertanam lebih luas di sawah maupun tegalan yang selama ini menunggu aliran air. Tapi di sisi lain, rahmat hujan ini berlebihan sehingga menimbulkan banjir,” terangnya.

Dikatakannya, dampak buruk itu terjadi di kawasan padi seluas 1,5 hektar di Kecamatan Pekutatan, Jembrana.
Selain padi, perkebunan pisang juga tergerus oleh banjir karena umumnya perkebunan dekat dengan sungai.

Baca juga :  RSK "Serbu" Kantor Grab

Selain lahan padi dan pisang, banjir dan longsor juga menggerus kebun bawang di Songan, Bangli.
Khusus di Songan, dia menyebut ini kejadian yang berulang. Kendati telah melakukan edukasi agar petani bawang melakukan mitigasi bencana, kerugian petani tetap saja terjadi. Itu dikarenakan penanaman bawang yang luas karena permintaan bawang di Bali yang cukup tinggi.
“Itu juga karena vegetasi di atasnya, ada juga petani yang bertanam di atas (kemiringan) 45 derajat, kan ngga boleh ya. Tapi karena tingginya minat nanam bawang, tanah miring pun ditanami. Tapi kami minta agar pusat memfasilitasi agar petani bisa bertanam kembali,” bebernya.

Baca juga :  12 Terduga Corona Dinyatakan Negatif, Rujukan Mangusada Tunggu Hasil

Menganalisis dari data itu, dia menilai dampak cuaca ektrem kali ini terbilang ringan. Itu mengacu kerugian petani di Bangli yang mencapai 3 hektar dari luas total lahan kebun bawang 1.000 hektar lebih, atau 0,03 persen. Sedangkan standar gangguan pertanian itu adalah maksimal 5 persen.

Dalam kondisi cuaca ekstrem ini, Sunarta menilai kerugian paling dirasakan oleh petani bawang. Itu karena biaya produksi yang tinggi. Dalam satu hektar, biaya produksinya mencapai Rp75 juta hingga Rp 100 juta. Tapi keuntungannya juga sesuai.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali akan melakukan pemetaan lahan yang rusak untuk diajukan ke pusat. “Kalau mengganti seluruh kerugian kan ngga bisa ya. Tapi apakah akan ada bantuan, atau ada pengembangan kawasan tambahan dari pusat,” imbuhnya.

Baca juga :  Diduga Ini Motif Pelaku Habisi Dwi Farica Lestari

Kepada para petani, dia mengimbau agar tidak semua lahan ditanami. Harus ada alur air saat hujan berkepanjangan, sehingga tidak terjadi banjir. “Sebelumnya kita sudah lakukan mitigasi dengan situasi lima tahun terakhir. Tapi sekarang berubah, dan sangat ekstrem. Selain berupaya, kita harus memaklumi situasi ini,” pungkasnya. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini