PHDI Denpasar Ingatkan Pura Perlu Tingkatkan Keamanan

0
5
Picsart 02 06 07.27.37
Ketua PHDI Kota Denpasar, Nyoman Kenak

Tonja, DENPOST.id

Aksi pencurian yang menyasar benda sakral di lingkungan pura menjadi salah satu fenomena di tengah pandemi Covid-19. Belum lama ini pencurian benda sakral di pura marak terjadi di Gianyar. Terbaru, pencurian benda sakral juga terjadi di Pura Prajapati Desa Adat Ubung, Denpasar Utara, pada Selasa (9/2/2021).

Diwawancarai terkait fenomena itu, Ketua PHDI Kota Denpasar, Nyoman Kenak, memandang secara sekala dan niskala. Secara sekala, dia menilai pengawasan di Pura masih lemah. Dikatakannya, di tengah pandemi yang berakibat krisis ekonomi, pengamanan harus ditingkatkan.

Baca juga :  10.154 Peserta Ikuti Tes CPNS di Denpasar

“Kalau makemit di Pura untuk berjaga sih tidak perlu. Mungkin bisa dipantau dengan CCTV,” ungkapnya ditemui Selasa siang di Denpasar. Dia mengaku telah menyuarakan agar pengempon memantau situasi pura melalui CCTV. Beberapa Pura di Denpasar dikatakannya sudah menerapkan, namun belum masif.

Meski pura merupakan tempat suci dan sakral yang diasumsikan aman dari tindak kejahatan, menurutnya asumsi itu juga harus diselaraskan dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat, utamanya saat krisis ekonomi.

Baca juga :  Isolasi 75 Warga di Gang Tegalwangi Dijaga Ketat Satgas

Sedangkan dari kacamata niskala, dia menilai peristiwa itu bagian dari cara Tuhan untuk mengoreksi umatnya. Sebab budaya di Bali, peristiwa yang terjadi di tempat suci dinilai sebagai kejanggalan.

“Janggalnya, kenapa bisa terjadi pencurian itu? Pada umumnya akan ada sesuatu yang menghalangi. Seperti anjing menggonggong, ranting pohon yang jatuh atau orang yang memergoki,” sebutnya.

Terhadap fenomena itu, dia mengatakan PHDI Provinsi Bali akan membahas persembahan upakara guru bendu di tingkat rumah tangga atau merajan.

Baca juga :  Pendapatan Kian Anjlok, Sejumlah Sopir Angkot Pilih Bertahan

Dijelaskan Kenak, upacara itu bermakna permohonan maaf kepada Tuhan melalui manifestasinya. Sebab peristiwa itu terjadi juga diakibatkan ketidakharmonisan manusia dengan lingkungan.

“Ini sempat kita rapatkan kemarin, barengan dengan membahas sasih (bulan Bali) ini. Saat tawur (rangkaian Nyepi), umat akan diminta mempersembahkan upakara guru bendu di tingkat pemerajan,” pungkasnya.  (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini