Mahasabha di Klungkung, Koster Ajak Pratisentana Gajah Para Ikut Ini

0
4
Picsart 02 12 04.51.54
MAHASABHA - Sira Arya Gajah Para Bratara Sira Arya Getas, saat mengadakan mahasabha untuk pertama kali di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Klungkung, Jumat (12/2/2021).

Semarapura, DENPOST.id

Setelah sempat ditunda hampir satu tahun lantaran pandemi Covid-19, akhirnya Mahasabha pertama Sira Arya Gajah Para Bratara Sira Arya Getas digelar di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Klungkung, Jumat (12/2/2021).

Mahasabha dibuka Gubernur Bali, I Wayan Koster dan dihadiri Sekda Klungkung, I Gede Putu Winastra mewakili Bupati Klungkung, Pengelingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra, penglingsir dan semeton warga Sira Arya Gajah Para Bratara Sira Arya Getas.

Baca juga :  Klungkung Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19

Ketua Panitia, I Ketut Suadnyana mengatakan pelaksanaan Mahasabha ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan pratisentana Sira Arya Gajah Para Bratara Sira Arya Getas di seluruh Indonesia. Kemudian membentuk kepengurusan pusat.

“Hingga saat ini, pengurus sudah ada dari pengurus pura kawitan dan pura dadia sebanyak 158 dadia yang tersebar di Bali, Lombok, Kalimantan dan Sumatera,” kata Suadnyana.

Untuk peserta dilakukan dengan dua cara. Pertama datang langsung ke lokasi dengan jumlah terbatas sebanyak 100 orang dan sisanya melalui video daring dari berbagai daerah di Indonesia. “Dalam pelaksanaan Mahasabha ini sudah diberlakukan protokol kesehatan secara ketat, dengan menyiapkan sarana cuci tangan dan alat ukur suhu tubuh, serta terpenting semua panitia dan peserta Mahasabha yang hadir sudah mengantongi surat rapid tes antigen dengan keterangan non reaktif,” katanya.

Baca juga :  Tahap II Segera Cair, Hibah Pariwisata Dilanjutkan Hingga 2021

Sementara Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam sambutannya mengatakan datang secara khusus untuk menghadiri Mahasabha ini lantaran dalam visi misi Nangun Sat Kerti Loka Bali, yakni atma kertih dalam upaya menjaga kesucian dan ingat dengan leluhur.

“Siapa yang menurunkan, siapa yang melahirkan dan keleluhuran utamanya jangan sampai dilupakan dan terus dipererat,” ucap Koster. (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini