Prostitusi Daring Marak, Ini Tanggapan Polda Bali

0
8
picsart 02 16 11.27.36
Direktur Reskrimum Polda Bali, Kombes Pol. Djuhandani Rahardo Puro

Kereneng, DENPOST.id

Di tengah kemajuan teknologi informasi, transaksi praktik prostitusi kini tidak hanya bisa ditemukan di kawasan lokalisasi. Belakangan populer aplikasi yang menawarkan layanan plus-plus secara daring (online). Hanya lewat satu aplikasi saja, para wanita penghibur bisa mencari pria hidung belang tanpa germo atau perantara.

Meski terkesan transaksi lebih mudah, namun para wanita yang menjajakan diri melalui aplikasi ini rentan menjadi korban kejahatan. Seperti yang dialami perempuan muda Dwi Farica Lestari (23) di sebuah rumah tinggal di Jalan Tukad Batanghari, Sesetan, Denpasar Selatan beberapa waktu lalu. Korban yang dikenal sebagai salah satu wanita yang mempromosikan diri di aplikasi prostitusi itu tewas mengenaskan di tangan lelaki yang membokingnya.

Baca juga :  Soal Corona, Koster Minta Respons Masyarakat Tak Berlebihan

Direktur Reskrimum Polda Bali, Kombes Pol. Djuhandani Rahardo Puro, mengatakan, sebelum menghabisi nyawa perempuan asal Subang, Jawa Barat itu, tersangka Wahyu Dwi Styawan (24) membuka aplikasi MiChat dan mencari wanita boking open atau BO. “Tersangka tak punya uang. Dia berencana merampok dengan pura-pura memboking korban. Makanya dia membawa pisau, untuk jaga diri jika ada yang mempergoki aksinya,” ucapnya, seraya mengatakan kalau korban baru seminggu di Bali sebelum dibunuh.

Baca juga :  Gairahkan Petani, Sumbangan Sembako Diminta Gunakan Produk Lokal

Ditanya terkait maraknya prostitusi online, Kombes Djuhandani tak menampik hal itu. Hanya saja dia enggan merinci. “Prostitusi online sejak dulu sudah ada. Ya saat ini mereka (pelaku prostitusi) memanfaatkan teknologi aplikasi yang ada di HP. Ya nanti akan kami selidiki terkait itu,” ucapnya.

Di sisi lain, prostitusi daring menggunakan media aplikasi MiChat sudah banyak diketahui masyarakat luas. Biasanya, para wanita penghibur memasang foto dan video seksi sebagai profil pengguna. Mereka menjajakan diri dengan menulis status BO yakni Boking Open. Jika berminat dengan jasa yang mereka tawarkan, pelanggan bisa mengirim pesan pribadi dan melakukan trasaksi atau tawar-menawar sebelum menentukan lokasi pertemuan. “Bahkan di aplikasi itu berisi perkiraan jarak pengguna satu dengan pengguna lainnya. Memang aplikasi ini menjadi pilihan bagi pelaku prostitusi online. Karena tak perlu perantara,” terang seorang sumber petugas. (124)

Baca juga :  Soal Kasus Uang Sewa Lahan Adat, Polda Sebut Tetap Jalan

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini