Gara-gara Ini, Petani Mengadu ke Gedung Dewan Badung

0
7
picsart 02 22 07.07.36
TERIMA PETANI - Ketua DPRD Badung, Putu Parwata saat menerima para petani Subak Balangan dan Subak Uma Tagal bersama puluhan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Marhaen Denpasar, Senin (22/2/2021).

Mangupura, DENPOST.id

Sepertinya jargon pemerintah keberpihakan untuk petani di Badung, belum sepenuhnya benar. Hal ini dibuktikan dari adanya aspirasi para petani yang tidak mendapatkan air selama puluhan tahun untuk mengairi sawahnya.

Seperti petani di Subak Balangan dan Subak Uma Tegal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung menyampaikan aspirasinya dengan mengadu ke DPRD Badung, Senin (22/2/2021). Para petani ini, mengadukan nasibnya selama 20 tahun tidak pernah mendapat air dari hulu (Tabanan) untuk mengaliri persawahannya, sehingga mengalami kekeringan.

Kedatangan perwakilan petani Subak Balangan dan Subak Uma Tegal bersama puluhan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Marhaen Denpasar ke DPRD Badung itu, diterima Ketua DPRD Badung, Putu Parwata didampingi Ketua Komisi I Wayan Regep, beserta Anggota Komisi IV, I Made Suardana.

Baca juga :  Pergerakan Penumpang di Bandara Ngurah Rai Mulai Menggeliat

Putu Jody Veriawan selaku Ketua DPC GMNI Marhaen Denpasar mewakili Desa Balangan menyampaikan aspirasi dengan tegas kepada Ketua DPRD Badung bahwa jeritan petani ini harus segera dicarikan solusi. “Kami minta permasalahan 20 tahun petani yang kesulitan air di Subak Balangan dan Uma Tegal segera diselesaikan,” harap Jody.

Mengingat 120 hektar lahan pertanian di subak setempat sulit mendapat air ke saluran irigasi dan hanya bisa menunggu air hujan baru bisa bercocok tanam. “Penyebab sulitnya petani di dua subak ini mendapat air karena aliran air ke Subak Balangan dan Uma Tegal ditutup beton, sehingga 300 petani di dua subak ini tidak menanam padi,” tegasnya.

Selain itu, pembagian air irigasi subak sering tumpang tindih akibat saluran irigasi di beton, sehingga keadilan bagi petani di dua subak ini tidak sesuai dengan sila kelima.

Baca juga :  Baleg Angkat Bicara Soal Corona

Hal senada ditegaskan Pekaseh Subak Balangan, I Ketut Matrayasa yang mengaku prihatin dengan kondisi petani anggota subaknya yang lebih dari 20 tahun menderita kekurangan air. “Kami ingin aliran air irigasi Subak Balangan dan Uma Tegal dinormalisasi lagi. Selama ini aliran ke Subak Balangan di beton, sehingga tidak dapat air,” ucapnya.

Ketua DPRD Badung, I Putu Parwata secara tegas siap mengawal aspirasi para petani di dua subak ini dengan cara bersurat ke Balai Wilayah Sungai (BWSB) Bali-Penida dan Pemprov Bali, serta Bupati Tabanan terkait hal ini. “Ini adalah hak petani. Ini sangat memalukan, masak petani selama 20 tahun di Balangan sulit dapat air,” ucap Parwata dengan nada tinggi.

Baca juga :  Motif Pembunuhan Pemilik Warung di Sanur Masih Misteri

Parwata menilai, ini tidak ada keadilan dan ini merupakan tanggung jawab negara sesuai UU dan permasalah ini menjadi kewenangan penuh BWSB dan Provinsi Bali. “Sumber masalah ini kan pembagian air DAM dari Luwus. Ya, kami di dewan harus selesaikan masalah rakyat ini, dan ini harus adil buat petani,” kata Parwata.

Ditambahkan Wayan Regep selaku Ketua Komisi I DPRD Badung, didampingi Anggota Komisi IV DPRD Badung, I Made Suardana menilai masalah petani ini sangat serius dan penting ditangani segera, sehingga pihaknya mendorong Ketua DPRD Badung berkoordinasi kepihak terkait. (115)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini