Ari Dwipayana : Perkuat Arus Tengah Dalam Masyarakat Multikultur

0
1
picsart 02 23 06.36.21
Koordinator Staf Khusus Presiden, AAGN Ari Dwipayana.

Jakarta, DENPOST.id

Koordinator Staf Khusus Presiden, AAGN Ari Dwipayana, menjadi salah satu narasumber dalam rapat koordinasi Dirjen Bimas Hindu dengan tokoh-tokoh umat Hindu di Jakarta, Senin (22/2/2021). Karena suasana pandemi, rapat hanya dihadiri perwakilan 36 tokoh dari majelis umat Hindu, organisasi masyarakat dan kepemudaan Hindu, serta pejabat Dirjen Bimas Hindu secara langsung, sebagian lainnya hadir secara virtual.

Dirjen Bimas Hindu, Tri Handoko Seto dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kesamaan pandangan tentang moderasi beragama, baik dengan kalangan eksternal maupun internal antarumat Hindu sendiri.

Menurut dia, setidaknya ada empat indikator keberhasilan moderasi beragama yang harus terus diupayakan seluruh stakeholder Kementerian Agama dan masyarakat, yakni komitmen kebangsaaan, anti kekerasan, toleransi dan penerimaan terhadap tradisi.

Menurut Seto, Menteri Agama terus menggelorakan semangat moderasi beragama karena sehebat apapun program-program pemerintah, jika tidak dijiwai moderasi beragama akan menimbulkan kerusakan yang kerusakannya bisa melebihi kecepatan pembangunannya sendiri.

Baca juga :  Revisi RUU Provinsi Bali Banyak Peroleh Dukungan Pusat

Dalam acara tersebut, Ari menekankan pentingnya penguatan arus tengah, khususnya disaat banyak negara sedang menghadapi tantangan atas kondisi masyarakat yang heterogen. Jerman atau Eropa yang dulu sangat homogen, saat ini juga berhadapan dengan tantangan baru yang disebabkan kondisi masyarakatnya yang sekarang sangat heterogen. Pada saat yang sama, banyak negara yang juga mulai bergeser dari monokultur menjadi multikultur.

Ditengah kondisi tersebut, maka kebhinekaan, baik intra-agama dan antaragama menjadi keniscayaan. Kebhinekaan adalah anugerah istimewa yang harus terus dijaga dan dirawat bersama-sama, salah satunya dengan memperkuat gerakan arus tengah keberagamaan.

Dalam paparan yang berjudul “Memperkuat Arus Tengah”, Ari menjelaskan ukuran keberhasilan literasi beragama bukanlah pada seberapa besar dapat memahami teks kitab suci, namun sejauh mana mampu melakukan perubahan atau transformasi etik berdasarkan pemahaman yang dimiliki. Dengan demikian, akan terlihat kemeriahan beragama tegak lurus dengan perubahan-perubahan etik dalam masyarakat, yang tergambar dari semakin membaiknya entitas sosial dan kesadaran sosial. Literasi tanpa perubahan etik masyarakat akan memunculkan banyak persoalan baru tanpa ada titik kemajuan.

Baca juga :  Covid-19 di Denpasar, Dua Pasien Meninggal dan Positif 49 Orang

Lebih lanjut Ari menyampaikan tentang bahaya ekstrimisme dan radikalisme, yang dapat menimbulkan konflik tajam bahkan berakhir dengan kekerasan. Ekstrimisme dan radikalisme bisa muncul di semua agama yang umumnya dimulai dari sikap intoleransi yang tidak diantisipasi sejak dini.

Doktor Politik UGM ini juga menegaskan pentingnya menghidupkan dialog tanpa terjebak pada formalitas dan seremonial. Dialog sejati harus sampai pada akar rumput. Terakhir, Tokoh Puri Kauhan Ubud ini menyampaikan bahwa pandemi Covid-19, yang menimpa semua umat beragama dengan dampak yang sangat dahsyat dan hendaknya juga dipandang sebagai momentum yang menyatukan, momen konsolidasi politik dan sosial untuk melakukan pemulihan ekonomi. Kunci menghadapi pandemi adalah sinergi dan kolaborasi.

Baca juga :  Desa Adat Kerobokan Siapkan Melasti "Ngubeng"

Rapat koordinasi yang berlangsung sehari penuh ini menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya DR. AAGN Ari Dwipayana selaku Koordinator Staf Khusus Presiden RI; Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (Ketua PHDI Pusat), Drs. I Ketut Donder dan Sugi Lanus. Rapat diharapakan menghasilkan rumusan dokumen yang akan digunakan sebagai pedoman para tokoh dan umat Hindu, dalam mengimplementasikan moderasi beragama. (r/tim dp)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini