25 Tahun Hidup Menumpang, Warga Miskin di Paksebali Digusur

0
4
picsart 03 03 06.29.10
KONDISI RUMAH - Kondisi rumah yang ditempati Ketut Merta (55) di Desa Paksebali, Dawan, Klungkung.

Semarapura, DENPOST.id

Sungguh memprihatinkan dialami keluarga miskin, Ketut Merta (55). Setelah 25 tahun menempati lahan milik warga di Dusun Timrah, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung kini rumah Ketut Merta bersama istrinya Ni Nengah Susun (45) harus digusur.

Apalagi lahan yang digarapnya akan dibuldoser untuk segera dijual. Jangankan menyewa tempat tinggal, untuk makan dan merawat istrinya yang sakit-sakitan saja Ketut Merta hanya mengandalkan hasil penjualan katik sate buatannya.

Dijumpai di gubuk ‘tua’ yang sebagian atap sengnya mulai keropos, Ketut Merta menuturkan sejatinya dia berasal dari Desa Kebon Bukit, Kabupaten Karangasem. Sedari balita hidupnya malang ketika mulai belajar merangkak orang tua Ketut Merta sudah meninggal. Sejak itu pula, dia hidup berpindah-pindah mengandalkan belas kasihan warga. Hingga akhirnya, sekitar 25 tahun yang lalu, dia belajar hidup mandiri dan tinggal di Klungkung.

“Saya sempat tinggal di Talibeng, Karangasem dan jualan sate keliling di pura-pura. Karena saya tidak punya tempat tinggal menetap, saya akhirnya ketemu Pak Jejeg dan diajak tinggal dilahan miliknya yang ini,” ujar Merta, sambil menunjukkan lahan yang ditempatinya.

Baca juga :  Banyak Pemilik Hotel dan Restoran Minta Penundaan Bayar Ini

Menurut Merta, selama tinggal di Paksebali dia hanya diminta untuk membayar pajak lahan itu, sebesar Rp400 ribu setahun. Namun sayang, beberapa tahun kemudian sosok teman sekaligus penolongnya tersebut meninggal dunia. Ketika itu, Ketut Merta yang sudah memiliki istri dan anak tetap memilih tinggal di Dusun Timrah. Bahkan sudah ber-KTP Desa Paksebali dan juga masuk desa adat setempat.

Seiring berjalannya waktu, rupanya lahan yang ditempatinya saat ini akan dijual, sehingga otomatis Ketut Merta bersama istrinya yang menderita penyakit epilepsi harus segera pindah. Hal itupun sempat membuat ayah yang memiliki delapam orang anak ini bingung. Jangankan untuk mencari tempat tinggal baru, untuk makan sehari-hari saja dia hanya mengandalkan dari hasil berjualan katik sate. Yang mana rata-rata dalam sehari hanya mendapat Rp20 ribu sampai Rp25 ribu saja.

“Saya tidak berani ninggalin istri jauh-jauh, takut penyakitnya kumat. Dulu saya jual sate laut, tapi sekarang tidak, sudah lama berhenti jualan. Sejak istri saya sakit,” ujarnya lirih.

Baca juga :  Banyu Pinaruh, Pengunjung Pantai Matahari Terbit Wajib "Rapid Antigen"

Di gubuk sederhananya, saat ini Ketut Merta tinggal bersama istri. Sedangkan anak-anaknya, ada yang sudah menikah, tiga orang meninggal, dan dua orang yakni Wayan Landep (25) dan Nengah Astawan (22) tinggal di kos-kosan di wilayah Desa Tangkas. Mereka terpaksa tinggal terpisah karena rumah yang ditinggali orang tuanya sangat sempit.

“Yang tinggal di sini bapak sama ibu. Saya sama adik ngekos di Tangkas. Saya hanya kerja sebagai pengayah tukang. Saya sudah berusaha membantu, tapi tidak bisa juga. Sekolah SD saja saya tidak tamat, Pak Bupati sudah melihat kami tadi, disarankan agar masuk kejar paket. Adik saya juga tidak sekolah, karena tidak mampu. Jangankan sekolah, makan saja kami tidak bisa,” ujarnya pilu.

Melihat kondisi keluarga Ketut Merta ini, Perbekel Paksebali, Putu Ariadi menyampaikan pihaknya bersama-sama dengan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta sudah datang ke lokasi. Dengan kondisi keuangan keluarga Ketut Merta yang pas-pasan. Sudah pasti, tidak sanggup untuk menyewa rumah kontrakan ataupun sekadar kos-kosan. Nah, menyikapi persoalan ini pihak desa berencana memohonkan lahan milik Provinsi Bali yang berada di Desa Paksebali sebagai tempat tinggal Ketut Merta. Tepatnya, di lahan yang kini sudah dipergunakan sebagai lokasi rumah subsidi yang digulirkan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Baca juga :  Jelang Galungan, Warga Lembongan Justru Hadapi Masalah Ini

“Walaupun bukan warga asli Paksebali, tapi dia (Ketut Merta) sudah ber-KTP Paksebali. Jadi menjadi tanggung jawab Desa Paksebali dan Pemerintah Klungkung. Kami akan usulkan tempat tinggal untuknya di wilayah Sulang di perumahan Jokowi itu, program rumah murahnya itu,” imbuhnya.

Selama menunggu usulan tersebut disetujui, untuk sementara keluarga Ketut Merta bersama istri akan disewakan kos-kosan. Bahkan Bupati Suwirta sudah dua kali meninjau ke lokasi. Pascapeninjauannya tersebut, Bupati Suwirta pun langsung memfasilitasi tempat kos untuk Ketut Merta selama setahun penuh. (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini