Sasaran Tim Pemburu Pelanggar Prokes Bukan Upacara Melasti

0
11
picsart 03 04 06.25.14
Karo Ops Polda Bali, Kombes Firman Nainggolan.

Kereneng, DENPOST.id

Dibentuknya Tim Pemburu Pelanggar Prokes Covid-19, oleh Polda Bali menimbulkan perdebatan di masyarakat karena dikhawatirkan tim tersebut, akan menyasar upacara keagamaan seperti Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 yang jatuh pada, 14 Maret 2021.

Menurut Karo Ops Polda Bali, Kombes Firman Nainggolan, Kamis (4/3/2021) tugas utama Tim Pemburu Pelanggar Prokes adalah mendatangi daerah yang masuk dalam kriteria zona merah Covid-19. Kemudian memberikan imbauan, melaksanakan kegiatan sosialisasi dan kegiatan yustisi penegakan disiplin protokol kesehatan (Prokes) Covid-19.

“Sasaran utama dari Tim Pemburu Pelanggar Prokes Covid-19, adalah mendatangi daerah zona merah untuk mendisiplinkan warga agar patuh terhadap prokes guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun, sasaran tersebut sewaktu-waktu bisa berubah sesuai perkembangan situasi,” kata Kombes Firman Nainggolan, seraya mengatakan jika terjadi peningkatan jumlah kasus yang diakibatkan oleh adanya kegiatan upacara keagamaaan, maka tidak menutup kemungkinan Tim Pemburu Pelanggar Prokes Covid-19, merubah sasaran dan akan mengarah ke sana.

Baca juga :  Kasus Covid-19 Bali Menurun, Satgas Imbau Tetap Taati Prokes

Terkait adanya upacara melasti yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu, Kombes Firman menjelaskan untuk pengamanannya diserahkan ke masing-masing satuan wilayah atau polres agar pelaksanaannya berjalan aman, lancar dan mematuhi prokes.

“Untuk itu, kami meminta kepada seluruh masyarakat Bali yang akan melaksanakan upacara melasti agar mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Jangan sampai ada klaster upacara agama,” imbau perwira melati tiga di pundak ini.

Karo Ops mengatakan pelaksanaan rangkaian Hari Raya Suci Nyepi Tahun Saka 1943 di Bali, sudah diatur dalam Surat Edaran (SE) Bersama Nomor: 009/PHDI-Bali/I/2021 dan 002/MDA-Prov Bali/I/2021 tanggal 19 Januari 2021.

Baca juga :  Rai Mantra Ajak Semua Pihak Wujudkan Pilkada Ramah Lingkungan

“Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2021 sudah diatur secara jelas dalam SE Bersama. Saya berharap SE Bersama ini dipedomani dan dilaksanakan dengan penuh disiplin untuk memperkuat upaya pengendalian Covid-19,” ujarnya.

Salah satu ketentuan dalam SE Bersama yang ditandatangani oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., dan Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet ini membatasi jumlah peserta yang ikut dalam prosesi upacara melasti, tawur dan pangrupukan paling banyak 50 orang.

Baca juga :  DPO Polres Banjarnegara Diringkus Aparat Polres Klungkung

Bagi umat yang sakit atau merasa kurang sehat agar tidak mengikuti rangkaian upacara. Bahkan guna menghindari berbagai potensi penyebaran Covid-19, semua panitia dan peserta agar mengikuti prokes pencegahan dan pengendalian Covid-19, dalam tatanan kehidupan era baru.

Kemudian bagi desa adat yang wewidangannya berdekatan dengan segara, danu, campuhan dan beji tetap dapat melasti di pantai, danau, campuhan dan beji. Sedangkan bagi desa adat yang jauh dari pantai, danau, campuhan dan beji agar melakukan melasti dengan cara ngubeng atau ngayat di pura setempat.

Selain itu, SE Bersama ini juga meniadakan pengarakan ogoh-ogoh yang berkaitan dengan upacara Tawur Kesanga Hari Raya Suci Nyepi Tahun Saka 1943. (124)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini