Terkendala Dana Sembako, PPKM di Desa Tak Maksimal

0
7
picsart 03 05 01.25.50
Perbekel Manistutu, I Komang Budiana

Negara, DENPOST.id

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro telah dilaksanakan di Jembrana.
PPKM itu melalui surat edaran nomor 478 / STPC-19/2021 yang mengatur beberapa pembatasan kegiatan di masyarakat dengan lebih ketat.

SE menginstruksikan jajaran perbekel/lurah bersinergi dengan desa adat untuk membentuk kembali satgas gotong royong penanganan Covid-19 berbasis desa adat dengan struktur organisasi, tugas dan fungsi yang diatur dalam keputusan bersama Gubernur Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali .
Sebelum satgas gotong royong desa adat itu terbentuk, pelaksanaan PPKM berbasis desa/kelurahan ditangani oleh relawan desa/kelurahan.
Sementara anggarannya dibebankan pada anggaran APBdes dan anggaran pendapatan dan belanja desa adat.

Baca juga :  Ini Definisi Zona Hijau Pariwisata dan Standar Operasinya

Terkait perpanjangan PPKM, sejumlah permasalahan dihadapi pihak desa. Salah satunya tidak ada dana pembelian sembako bagi warga yang menjalani isolasi, sehingga pelaksanaan PPKM tidak maksimal. “Anggaran dana desa tidak diizinkan untuk pengadaan sembako. Hanya diizinkan membeli masker, handsanitizer dan lainnya termasuk keperluan cuci tangan. Nah, yang urgen sebenarnya kan sembako bagi warga yang diisolasi. Ini dah yang kadang membuat bingung dan harus dicarikan solusi. Ya tentu nanti kami kembali koordinasikan ke Pemkab,” jelas Perbekel Manistutu, Kecamatan Melaya, I Komang Budiana, Jumat (5/3/2021).

Baca juga :  8 Orang Positif, Kantor Bidang Perizinan Ditutup

Khusus di Manistutu, katanya, kasus Covid-19 di desanya menurun sejak Maret ini karena kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan meningkat. Penggunaan masker juga mulai disiplin. “Dari awal Maret sampai hari ini nihil kasus. Sementara dari Januari 2021 sampai awal Maret ada 4 orang yang terpapar Covid-19. Untuk tahun 2020 sebanyak 21 orang,” jelasnya.

Budiana berharap di desanya tidak ada lagi kasus Covid-19.
Dampak virus corona ini juga dirasakan oleh warganya. Karena banyak warga Manistutu yang menjadi pekerja pariwisata. “Sekitar 30 persen yang pekerja pariwisata dan banyak yang pulang. Namun sebagian besar juga menjadi petani dan sebagainya,” katanya.

Baca juga :  Kembang-Sugiasa Bantah Diisukan Masuk RS

Dia mengaku sudah berupaya mendata warga yang terdampak. Namun dari dana BLT desa tidak diperkenankan diberikan kepada pekerja pariwisata yang terdampak.
BLT desa tahun 2021 diberikan pada lansia dan orang sakit. Yang diberikan sebanyak 133 orang dengan nilai Rp 300 ribu per orang per bulan selama satu tahun. (120)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini