Diisolasi Usai Bantu Angkat Jenazah di RSUD Karangasem, Ternyata Ada Miskomunikasi

0
11
Konsep Otomatis

Amlapura, DENPOST.id

Niat membantu memindahkan jenazah salah satu kerabat meninggal yang terkonfirmasi Covid-19, Komang Arya, warga asal Lingkungan Glumpang, Desa Karangasem, Karangasem malah diharuskan untuk menjalani isolasi selama 14 hari.

Memilih mengisolasi diri di warungnya, Banjar Dinas Tauka, Desa Tiing tali, Kecamatan Abang, Arya menuturkan pihaknya diisolasi usai membantu memindahkan jenazah salah satu kerabat istrinya di RSUD Karangasem, Rabu (31/3) lalu.

“Mendapat kabar duka, saya datang ke RSUD bersama istri. Sampai disana saya diminta untuk membantu mengangkat jenazah dari ruang rawat inap sal Gangga oleh petugas ruang jenazah,” ungkapnya.

Sebelum memindahkan jenazah, Arya sempat meminta APD seperti yang dikenakan petugas. Namun salah satu petugas di sal Gangga hanya memberikan sarung tangan medis dan sebuah masker medis. Setelah memakai itu, ia langsung membantu mengangkat jenazah dari tempat tidur pasien ke tempat tidur yang akan dibawa ke ruang jenazah.

Dikatakan telah sesuai SOP, keesokan harinya, Arya malah disuruh melakukan isolasi karena dianggap kontak erat. “Tanggal 4 kemarin saya mendapat kiriman surat lewat WA dari puskesmas Abang 1, yang menyatakan saya harus diisolasi terhitung sejak tanggal 31 maret sampai 13 april, ” ungkapnya.

Baca juga :  Karantina di Magetelu Akan Berakhir

Mendapat kenyataan tersebut, Arya memilih melakukan isolasi di warung Banjar Tauka, Desa Tiing tali, Abang. Sebab, ia memiliki seorang balita dan tak ingin keluarga besarnya ikut diisolasi.

“Saya sempat dihubungi Dirut RSUD terkait kejelasan saya yang diisolasi usai mengangkat jenazah. Katanya miskomunimasi dengan Puskesmas. Tapi sampai saat ini belum jelas, ” ungkapnya ditemui langsung, Senin ( 5/4).

Pihaknya merasa kecewa, sebab tak ada kejelasan terkait statusnya. Pihak RSUD telah menyatakan ia membantu mengangkat jenazah sesuai SOP dan tak masuk dalam kontak erat. Namun hingga kini pihak puskesmas tak memberi keterangan resmi terkait statusnya.

“Jika nanti benar saya dinyatakan bukan kontak erat, saya minta klarifikasi di media terkait sudah terlanjur tersebar masalah saya dikarantina karena dianggap kontak erat. Ini terkait pelanggan warung saya supaya tidak ada keraguan untuk kembali berbelanja, ” harapnya.

Baca juga :  Seluruh UMKM di Karangasem Diusulkan Dapat BSU

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Tiingtali sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Desa Tiingtali, Ketut Sunarda menyatakan ada 6 KK yang diisolasi kontak erat dengan pasien meninggal terkonfirmasi Covid-19 di Banjar Dinas Tauka, Desa Tiingtali. Termasuk satu warga, Komang Arya asal Lingkungan Glumpang.

“Ya menurut keterangan yang bersangkutan tercatat kontak erat karena sempat membantu mengangkat jenazah, ” ungkapnya.

Terkait kondisi ini RSUD Karangasem memberi penjelasan. Ditemui, Senin (5/4) Kasi Pelayanan RSUD Karangasem , dr. I Gede Yuliasena menuturkan bahwa hal ini terjadi karena miskomunikasi antara Puskesmas dan RSUD.

“Baru saja kami telah melakukan pertemuan terkait ini, ” ungkapnya. Pihaknya menjelasnya Komang Arya tak seharusnya masuk kategori kontak erat. Sebab, ia telah memakai APD standar saat mengangkat jenazah. Termasuk tak melakukan kontak lebih dari 1 menit.

Baca juga :  Dana-Dipa Kuasai 7 Kecamatan, Massker Hanya Unggul di Kubu

“Sudah standar, Arya memakai sarung tangan medis dan masker. Karena saat itu jenazah telah terbungkus kain batik dalam kondisi baru. Serta telah dilakukan perawatan jenazah sesuai standar, ” ungkapnya.

Yuliasena menjelaskan Arya sama sekali tak dapat kontak langsung dengan jenazah. Sebab saat mengangkat jenazah telah dalam kondisi terbungkus kain, telah diberi sumbatan di setiap lubang tubuh. Di tambah ia telah memakai sarung tangan medis. “Ia juga hanya membantu saat memindahkan jenazah dari tempat tidur pasien ke tempat tidur yang digunakan memindahkan jenazah. hanya dekat jenazah kurang lebih 10 detik,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan berbeda dengan proses pemandian jenasah yang mana petugas harus memakai APD Lengkap atau paramedis yang harus menyentuh langsung tubuh pasien. Pihaknya menyatakan ini murni miskomunimasi dengan petugas Puskesmas.

“Kedepannya kami sudah kordinasikan agar saat melakukan tracking berkordinasi dengan kami, agar tak terjadi seperti ini lagi, ” pungkasnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini