Gubernur Koster Luncurkan Keputusan Pedoman Pengelolaan Sampah

Konsep Otomatis
SERAHKAN SERTIFIKAT - Gubernur Bali menyerahkan sertifikat kepada lima desa/kelurahan atau desa adat yaitu Desa Paksebali (Klungkung), Desa Baktiseraga (Buleleng), Desa Punggul (Badung), Desa Taro dan Desa Adat Padang Tegal (Gianyar), yang berinisiatif secara mandiri melaksanakan pengelolaan sampah berbasis sumber. (DenPost.id/ist)

Tegangllalang, DenPost.id
Gubernur Bali Wayan Koster, Jumat (9/4/2021) meluncurkan Keputusan Gubernur Nomor 381/03-P/HK/2021 tentang pedoman pengelolaan sampah berbasis sumber di desa/kelurahan dan desa adat, di Wantilan Desa Adat Taro,Tegallalang, Gianyar.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster juga menyerahkan penghargaan kepada lima desa yang sudah mampu menerapkan tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R).

Gubernur Koster mengatakan Keputusan Gubernur Nomor 381/03-P/HK/2021 dan Instruksi Gubernur Nomor 8324 Tahun 2021 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber di desa/kelurahan dan desa adat merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber dalam rangka mewujudkan pembangunan daerah Bali berdasarkan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru. Maknanya menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya. Juga untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sekala-niskala menuju kehidupan warga sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno.

Visi ini untuk menjaga lingkungan alam yang bersih, hijau, dan indah, serta berkualitas, dengan mengembangkan tatanan kehidupan krama Bali berdasarkan nilai-nilai filsafat Sad Kerthi.

Mantan anggota DPR RI tiga periode ini menyebut bahwa Bali sekarang dalam keadaan darurat sampah. Dengan demikian, program pengelolaan sampah berbasis sumber sudah sangat mendesak untuk diterapkan di wilayah desa/kelurahan dan desa adat. Secara rinci, Gubernur Bali yang tamatan ITB, Bandung, ini menjelaskan Keputusan Gubernur mengatur mengenai strategi pengelolaan sampah berbasis sumber di desa/kelurahan dan desa adat.

Pengaturan warga dengan membatasi perilaku yang menghasilkan banyak sampah, mewajibkan warga melakukan pemilahan sampah di rumah tangga, melarang warga membuang sampah ke desa dan desa adat lain, melarang warga membuang sampah tidak pada tempatnya, membatasi penggunaan bahan plastik sekali pakai sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018, melarang warga membuang sampah di danau, mata air, sungai dan laut, sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020.
Gubernur Wayan Koster juga menyampaikan ada lima desa/kelurahan atau desa adat yaitu Desa Paksebali (Klungkung), Desa Baktiseraga (Buleleng), Desa Punggul (Badung), Desa Taro dan Desa Adat Padang Tegal (Gianyar) yang berinisiatif secara mandiri melaksanakan pengelolaan sampah berbasis sumber.

Baca juga :  15 Orang Positif Covid-19 di Denpasar

Guna memberikan motivasi terhadap inisiatif, inovasi, dan kreativitas dalam pengelolaan sampah berbasis sumber ini, Gubernur Bali akan menyelenggarakan lomba desa yang mampu menerapkan nilai-nilai filosofi Sad Kerthi.

Bupati Gianyar Made Mahayastra mengatakan Gianyar memang sudah melaksanakan pengolahan sampah berbasis sumber di beberapa desa yang menjadi proyek rintisan. Yang terpilih menjadi desa percontohan adalah Desa Taro. Bahkan desa-desa yang lain mulai bergerak menerapkan TPS3R. Yang paling lengkap memang ada di Desa Taro.

Baca juga :  Bupati Artha Minta Perketat Pemeriksaan Warga Masuk Bali

Menurut Mahayastra, TPS 3 R merupakan sistem dan teknologi pengolahan sampah dari hulu. Program TPS3R di Kabupaten Gianyar bersinergi dengan program Puspa Aaman (pusat pangan alami mandiri asri dan nyaman). Hal ini sesuai misi pertamanya sebagai Bupati Gianyar yaitu membangun pertanian yang produktif, efesien dan mandiri. Puspa Aman menjadi salah satu program unggulan di Kabupaten Gianyar. Hal ini merupakan upaya pemerintah Gianyar mengajak masyarakat memanfaatkan lahan di desa yang tidak produktif untuk dikembangkan menjadi penghasil pangan dalam memperbaiki gizi masyarakat, sekaligus untuk menambah penghasilan desa itu sendiri.

Salah satu produk yang dihasilkan TPS 3R yaitu pupuk organic. Selain dijual, pupuk ini juga dapat dimanfaatkan untuk program Puspa Aman guna mengembangkan kebun bibit sebagai penyedia bibit tanaman dan membuat demplot sebagai laboratorium lapangan, sarana edukasi bagi anggota kelompok dalam mengembangkan kebun pekarangan dan lahan sekitar tempat tinggal.

Kepala Desa Taro I Wayan Warka mengatakan bahwa awalnya dia melaksanakan TPS 3R sejak awal tahun 2019. Dia mengaku bahwa MPH Yayasan Merah Putih Hijau dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar  yang pertama mengedukasi dirinya bersama warga Desa Taro. Selain itu dia mengeluarkan Peraturan Desa tahun 2020, lalu diturunkan menjadi pararem dan awig-awig desa adat, agar desa dinas dan desa adat bersinergi saling menguatkan tugas masing-masing. Hal itu karena desa adat juga harus bertanggung jawab terhadap warganya “Harus dibuatkan awig-awig dan pararem agar warga taat dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau ladang, dan ada sanksinya,” beber I Wayan Warka.
Untuk lebih menguatkan lagi , dia membentuk tim kader kebersihan yang beranggotakan tiga orang di masing-masing banjar. Tim berfungsi menguatkan dan membantu komunitas di pengelolaan sampah. Semua warga Desa Taro sadar memilah sampah mulai dari rumah dan ditampung dalam karung.

Baca juga :  Dicurigai Corona, ABG Asal Demulih, Bangli, Diobservasi di RSUP Sanglah

Untuk hasil pupuk kompos, dipergunakan untuk padat karya masyarakat dan kebun Puspa Aman desa setempat. “Itu semua sudah menggunakan pupuk organik, dan terbukti hasilnya bagus, sehingga Desa Taro mendapat sertifikat organik ditandai dengan kembalinya kunang-kunang di desa kami,” ujar tandas Warka. (yul)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini