Kasus Dugaan Penistaan Agama Viral, Yayasan Keris Bali Datangi Polda, Prajaniti Melapor

Kasus Dugaan Penistaan Agama Viral, Yayasan Keris Bali Datangi Polda, Prajaniti Melapor
DATANGI POLDA BALI - Ketua Yayasan Kesatria Keris Bali, Ketut Putra Ismaya Jaya, didampingi penasihat hukum serta beberapa rekannya, mendatangi Dit.Reskrimsus Polda Bali, Jumat (16/4) pagi. (DenPost.id/ist)

 

 

SEORANG wanita kelahiran Bali, Desak Made D, membuat heboh dunia maya, khususnya masyarakat di Pulau Dewata. Desak D dinilai menghina dan melecehkan budaya serta agama Hindu di Bali melalui video berdurasi 24 menit 20 detik. Ketika video tersebut viral di medsos maupun ramai grup WhatsApp (WA), sejumlah elemen masyarakat Bali hendak melaporkan wanita yang diketahui tinggal di wilayah Bekasi, Jabar tersebut. Salah satu yang melapor adalah Ketua Yayasan Kesatria Keris Bali, Ketut Putra Ismaya Jaya. Didampingi penasihat hukum serta beberapa rekannya, Ismaya mendatangi Dit.Reskrimsus Polda Bali, pada Jumat (16/4/2021).

Ismaya mengatakan bahwa kedatangannya ke Polda Bali bertujuan membuat laporan mengenai kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Desak Made D. “Sebelum membuat laporan, kami diskusi dengan penyidik Unit V Ciber Dit. Reskrimsus Polda Bali. Penyidik menyarankan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi bila kasusnya dilaporkan,” ungkapnya.

Mengenai Undang-undang ITE, menurut Ismaya, pihak yang dilaporkan adalah orang yang menyebarkan video tersebut pertama kali. Perlu juga diketahui apakah video itu dibuat dan disebarkan konteksnya untuk umum atau khusus untuk orang-orang yang terlibat dalam kegiatan atau kalangan tertentu saja. “UU ITE di mana pun bisa dilaporkan, tapi yang dilaporkan adalah siapa yang menyebarkan pertama kali,” ungkapnya.

Baca juga :  Cok Pemecutan Dukung Penanganan Kasus Narkoba

Mengenai pelaku atau orang yang melakukan penghinaan dalam video, sambung Ismaya, sudah mengarah ke tindak pidana umum, dan hanya bisa dilaporkan di lokasi ceramah yang dilakukan Desak Made D. “Setelah diskusi dengan penyidik, kami akan berkoordinasi dengan nyame (saudara) atau aliansi Hindu di Jakarta untuk melaporkan hal ini. Mengenai dugaan penistaan agama, penyidik juga mempelajarinya,” lanjut Ismaya.

Pihaknya berusaha memenuhi unsur untuk dijadikan sebagai suatu laporan. “Kami harus mendapatkan siapa yang menyebarkan pertama kali video itu? Harus ada tautannya yang menyebarkan pertama. Apa maksud dan tujuannya? Kalau untuk internal, maka unsurnya tidak masuk seperti kasusa Ahok. Ahok kena pidana umum dan penyebar videonya juga kena pidana khusus,” tandasnya.

Baca juga :  Seorang Perempuan Ditemukan Gantung Diri di Kamar Kos

Dewan Pengurus Daerah Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali (DPD Prajaniti Bali) juga melaporkan Desak Made D ke Polda Bali, Jumat kemarin. Ketua DPD Prajaniti Bali Wayan Sayoga mengungkapkan seseorang berhak memeluk agama dan meyakini kebenaran agamanya. Mengingat alasan sesuatu yang diyakini, hendaknya kita menjauhkan diri dari sikap merendahkan dan menyakiti keyakinan orang lain. Pada dasarnya sikap demikian sama halnya kita menabur penyakit pada diri sendiri. “Kami menghormati dan menerima kebenaran dari mana pun datangnya. Ini merupakan sikap dasar sebagai orang Hindu untuk merawat kebersamaan sehingga dunia dimana kita hidup menjadi damai dan harmonis,” tegas Sayoga.

Dalam suratnya, DPD Prajaniti Bali minta jajaran penegak hukum agar segera mengusut kasus ini. Wayan Sayoga menyebut bahwa pihaknya mendorong polisi agar menegakkan UU ITE dalam kasus ini. Sekretaris DPD Prajaniti Bali, I Made Dwija Suastana, memperkuat pernyataan Wayan Sayoga. Kata dia, menurut Pasal 1 UU No.1/PNPS/1965 juncto Pasal 156 KUHP, larangan mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama. Selain itu, menurut Dwija, dalam kasus video viral ini, selain Desak Darmawati, pihak yang dengan sengaja menggunggah kali pertama video ini layak dimintai keterangan.

Baca juga :  Kapal Roro Kembali Tak Beroperasi

Wayan Sayoga mengajak semua pihak supaya menghormati kemajemukan tata cara beragama di Tanah Air. Terlebih saat ini bangsa Indonesia menghadapi pandemi covid-19 yang membutuhkan energi seluruh anak bangsa untuk mengatasinya. “Kami mengajak semua pihak agar konsentrasi dalam menuntaskan pandemi covid-19. Mari kita kurangi ujaran-ujaran yang malah menurunkan imunitas tubuh kita,” pungkasnya. (yan/kmb)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini