Perempuan Milenial Relatif Berkembang, Namun Diskriminasi Belum Lekang

Perempuan Milenial Relatif Berkembang, Namun Diskriminasi Belum Lekang
Eka Santi Indra Dewi

Sumerta, DENPOST.id

Aktivis perempuan, Eka Santi Indra Dewi mengaku sepakat bahwa kini perempuan Bali semakin berkembang. Terlibat dalam gerakan stategis seperti dunia politik, hingga mampu beradaptasi dengan teknologi.

Hanya saja, dia melihat kondisi itu umumnya dialami perempuan Bali generasi milenial, atau berusia di bawah 40 tahun. Sementara generasi di atasnya, yang padat dengan aktivitas adat, relatif sulit mengembangkan diri.

“Di atas 40 tahun, mereka masih memiliki pola pandang lama. Apalagi di desa-desa. Masih banyak yang belum bisa mengembangkan diri karena perannya di desa adat,” tutur Eka, diwawancarai, Rabu (21/4/2021) di Denpasar.

Perempuan milenial, lanjut Eka, posisinya sudah semakin setara dengan laki-laki dalam berkarir. Terlebih mereka yang menempuh pendidikan tinggi. Namun di antara perbedaan itu, Eka melihat perempuan Bali milenial maupun generasi sebelumnya masih mengalami diskriminasi.

Baca juga :  Miss Global Sebut Polisi Bali Korup, Kakanwil Kemenkumham Beri Tanggapan

Anggota LSM Bali Sruti ini melihat diskriminasi terhadap perempuan Bali belum lekang. “Tantangan perempuan Bali saat ini sepertinya masih berkutat dengan budaya patriarki. Banyak persoalan budaya yang sepertinya masih membuat perempuan Bali terdiskriminasi,” tuturnya.

Contohnya, kata dia, persoalan hak waris yang masih jauh dari kata setara. Juga hak untuk berperan dalam peran adat yang belum setara. Menurutnya melepaskan perempuan Bali dari diskriminasi adalah perjuangan sepanjang masa.

Baca juga :  Esensi Profesi Guru, Prof. Oka Sebut Kuasai Ilmu Saja Belum Cukup

Kendati demikian, Wakil Ketua Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali ini mengajak perempuan Bali harus memahami betul hak dan kewajibannya. Memperjuangkan perubahan-perjuangan menuju kesetaraan dengan elegan atau tidak radikal.

“Dan dengan beragam tuntutan peran perempuan Bali harus bisa memanajemen waktu dan diri dengan lebih baik. Misalnya dengan tuntutan peran sebagai krama istri di banjar, sementara juga harus bekerja membantu ekonomi keluarga. Bagaimana bisa mengatur agar semua peran tetap bisa dilakukan. Budaya tetap harus dijaga, tapi menyiasati teknis menjaganya agar juga tidak membebani,” tutupnya. (106)

Baca juga :  Korban Mafia Tanah Ajukan Blokir Enam Sertifikat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini