Mbah Poniah, Masih Sehat dan Kuat Memijat di Usia 107 Tahun

Konsep Otomatis
SEHAT DAN KUAT - Siti Poniah—sering dipanggil Mbah Poniah—tetap sehat dan kuat memijat walau berusia 107 tahun. (DenPost.id/dof)

DI zaman modern seperti saat ini, sulit rasanya kita menemukan orang yang masih bertahan hidup di atas usia 100 tahun. Faktanya, Siti Poniah—sering dipanggil Mbah Poniah—tetap sehat dan kuat saat berusia 107 tahun.

Wanita kelahiran Banyuwangi, Jatim, pada 18 Agustus 1913, ini hidup rukun dan damai bersama anak, cucu dan cicitnya, di Banjar Pekandelan, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat (Denbar). Kendati berusia 107 tahun, Mbah Poniah masih kuat memijat. Dia membuka semacam praktik di rumahnya yang sangat sederhana. Kebanyakan yang datang dipijat adalah anak-anak. ‘’Saya tidak minta bayaran tertentu, tapi atas kerelaan saja,’’ ujar Mbah Poniah, didampingi cucunya yang sudah berkeluarga, belum lama ini.

Terbilang bertubuh kurus, dia ternyata punya tangan yang kuat memijat, termasuk saat DenPost.id mengulurkan tangan untuk dipijat. ‘’Saya masih kuat dan mampu memijat siapa saja,’’ tegas wanita yang masih punya pendengaran sangat bagus di usia yang senja ini.

Baca juga :  Hadapi Ujian Berat di Masa Pandemi, Koperasi Diminta Lakukan Ini

Ditanya mengenai resepnya mampu bertahan hidup dan tetap sehat menjelang usia 108 tahun, Mbah Poniah mengaku tidak punya strategi atau diet khusus dalam pola makan. Dia mengaku menyantap setiap masakan yang dibuat cucunya dan tak pernah ada masalah. “Saya makan nasi seperti biasa. Apa yang dimasak cucu saya, itulah yang saya makan. Daging juga tidak masalah, asalkan dihaluskan dulu,” beber wanita yang suka homur ini.

Mengenai penyakit, Mbah Poniah mengaku tak punya kasus yang berat. Sama seperti kebanyakan orang pada umumnya, dia pernah saja sakit namun tidak terlalu parah. ‘’Hanya sakit biasa,’’ tegasnya, sambil menantang DenPost.id untuk mencoba kekuatan naik ke lantai dua rumahnya yang terbuat dari kayu.

Baca juga :  Tenggak Solar, Warga Penatih Tewas

Satu hal yang tak pernah dia alami selama hidup adalah stres. Rupanya dengan hidup tenang dan bersyukur, Mbah Poniah tetap sehat dan bersahaja bersama keluarga. Dia mengaku menjalani hidup normal-normal saja dan sangat rajin sembahyang.

Lebih dalam ditelisik, Mbah Poniah sempat menikah dua kali. Mendiang suami keduanya lebih muda 30 tahun daripada dia. Uniknya sang suami dinikahi saat masih brondong. “Tautan usia suami kedua Mbah sangat jauh dan dia sudah meninggal dunia,’’ ujar sang cucu.

Sebelum tinggal dan membuka praktik pijat di Pekandelan, Mbah Poniah sempat tinggal di Pekambingan. Selain memijat, saat itu dia sering membantu ibu-ibu melahirkan. ‘’Sekarang juga saya tetap mijat,” terang Poniah, tersenyum.

Baca juga :  Pandemi Covid-19, Tahun Ajaran 2020/2021 SMA/SMK Tetap Sesuai Jadwal

Ditanya mengenai warisan tanah dari mendiang suami, dia mengaku tidak punya sama sekali, termasuk tanah warisan orang tuanya di Jawa. “Warisan saya ya hanya doa dan bisa memijat ini. Tanah yang saya tempati ini pun ngontrak. Saya tidak ada ngambil warisan, dan saya tidak pernah pulang kampung,” jelas wanita beranak dua ini.

Mengenai sang anak, Poniah mengaku seorang masih bersama dia, dan satu lagi tinggal di Jakarta. ‘’Anak Mbah yang ada di Jakarta tak pernah nengok Mbah di Bali. Entah dimana dia sekarang?’’ tandas sang cucu. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini