Stok Garam Amed Menumpuk, Petani Harap Peran Pemerintah

Stok Garam Amed Menumpuk, Petani Harap Peran Pemerintah
PETANI GARAM - Petani garam amed berharap penjualan dapat kembali normal.

Amlapura, DENPOST.id

Sejak pandemi Covid-19, produksi petani garam amed di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem terus menurun. Hal ini disebabkan karena rendahnya daya beli. Kondisi ini membuat petani garam berharap pemerintah dapat ikut berkontribusi menyelamatkan petani tradisional garam amed.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Masyarakat Indikasi Geografis (MPIG) Garam Bali, I Nengah Suanda. “Apalagi kita tahu, pembuatan garam amed adalah warisan leluhur sejak abad ke-15,” ungkapnya. Lebih lanjut Suanda mengungkapkan, penurunan produksi telah terjadi sejak tahun 2020. Tutupnya restoran dan hotel yang semula menyuplai garam amed menjadi penyebab. Tak hanya itu, penjualan lintas pulau seperti Jakarta, Jawa Barat, hingga Tanggerang juga menurun.

Baca juga :  Digitalisasi, Senjata Utama BRI Hadapi Tantangan Bisnis Mikro dan Ultra Mikro

“Akibat kondisi ini stok garam mencapai puluhan ton di gudang,” ucapnya.  Stok tersebut telah diproduksi sejak tahun 2019, yang rencananya dipasarkan tahun 2020. “Saat pandemi sekarang hanya bisa jual 1 ton atau 1.000 kilogram. Biasanya sampai 3 hingga 5 ton,” Jelas Suanda. Dengan kondisi ini Suanda sempat menghentikan produksi garam, sehingga para petani beralih profesi menjadi nelayan.

Di tengah upaya pemerintah gencar membangkitkan sektor ekonomi, Suanda berharap permintaan garam dari luar Bali mengalami peningkatan, sehingga stok yang telah diproduksi bisa terjual. Untuk diketahui, setiap 100 gram garam yang sudah dikemas, petani biasa menjual Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Namun untuk garam curah lebih murah yakni Rp 30 ribu rupiah tiap kilogramnya. (yun)

Baca juga :  Ribuan Masker Dibagikan di Wilayah Rentan Sebaran Covid-19

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini