Kunjungi Museum Agung Bung Karno, Kapusjarah Polri Temukan Buku Benang Merah Soekarno dengan Kepolisian

Konsep Otomatis
SERAHKAN BUKU - Sekjen Yayasan Kepustakaan Bung Karno, IGN Wira Wedawitri, didampingi Gus Marhen, saat menyerahkan buku ‘’Seluruh Rakyat Adalah Bhayangkara Revolusi’’ kepada Kapusjarah Polri Brigjen Apriastini di Museum Agung Bung Karno, Kamis (3/6/2021). (DenPost.id/wira)

Sumerta Klod, DenPost.id

Wajah Kepala Pusat Sejarah (Kapusjarah) Polri, Brigjen Pol. Apriastini Baktibugiansri K., berseri-seri begitu menemukan buku yang teramat langka mengenai benang merah keterkaitan Presiden I RI Ir. Soekarno dengan kepolisian. Setelah keliling dari Sabang sampai Merauke, Aspriastini justru menemukan buku itu di Museum Agung Bung Karno di Sumerta Klod, Dentim, Kamis (3/6/2021).

Saat itu juga Ketua Yayasan Kepustakaan Bung Karno, Gus Marhen, menyerahkan buku koleksi Bung Karno yang berjudul “Seluruh Rakjat Adalah Bhayangkara Revolusi”. Buku ini rencananya sebagai koleksi di Perpustakaan Polri, Jakarta. Setelah itu Kapusjarah dan rombongan meninjau koleksi Museum Agung Bung Karno dan Museum Agung Pancasila.

Kepada wartawan, Apriastini menyebut bahwa kedatangannya ke Bali khusus untuk menggali dan mengumpulkan dokumen mengenai Presiden I RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno. Hal ini dalam rangka Mabes Polri membangun patung Bung Karno. Dari buku itu pula, dia akhirnya paham bahwa Bung Karno dan kepolisian punya ikatan moral yang sangat kuat. “Kami ke sini tanpa direncanakan. Kami didorong Tuhan. Ini suatu anugerah buat kami,” tegas perwira bintang satu di pundak ini.

Sebagai Kapusjarah Polri, Apriastini mempunyai tugas untuk mencari data dan meneliti tentang sejarah Polri. Kunjungannya ke Museum Agung Bung Karno juga atas petunjuk Kapolda Bali Irjen Pol.Putu Jayan Danu Putra. “Saya yakin tidak ada yang kebetulan. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Kebetulan kami ketemu, kemudian benang merahnya ada, dan kami diberikan buku naskah asli yang sedang kami cari. Beliau (Soekarno) pada 1 Juli 1964 di Hari Bhayangkara ke-16 beliau mengatakan bahwa seluruh rakyat adalah bhayangkara revolusi. Jadi memang beliau sangat dekat dengan Polri,” tuturnya.

Baca juga :  Ikut Booster, Warga Dapat Minyak Goreng Gratis

Brigjen Apriastini juga mengaku menemukan pembenaran sejarah. Menurut dia, hal ini sangat fundamental, baik bagi dia sendiri, khususnya bagi Polri. “Sejarah itu tidak ada (istilah) katanya. Tetapi fakta dan bukti autentik. Di sini (Museum Agung Bung Karno) ada semuanya. Nanti buku naskah asli yang diberikan ini kami abadikan di Museum Polri yang mengoleksi tentang sejarah-sejarah yang berkaitan dengan Polri,” tegasnya.

Baca juga :  Gempa Bumi Tektonik M=4,4 Dirasakan di Kuta

Dia menjelaskan, patung Bung Karno direncanakan dibangun di Kampus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan. Gedung PTIK pertama di Indonesia itu akan diberi nama Gedung Soekarno. Mengingat gedung yang dibangun itu kembar, maka akan diberi nama Gedung Soekarno-Hatta.

Gus Marhen berucap mengingat ini kepentingan republik, yang bersifat ambeg parama artha, maka museum menyerahkan buku ini kepada Polri,” ungkapnya.

Buku tersebut diterbitkan Departemen Penerangan RI pada 1 Juli 1964 tepat pada hari ulang tahun ke-19 Polri. “Pada saat itu pula Anggota Kepolisian Republik Indoesia (AKRI) memberi apresiasi berupa Bhayangkara Agung kepada Soekarno,” sebut Gus Marhen.

Baca juga :  Tingkatkan Hasil Panen, Desa Lebih Tanam Padi dengan Pola Jajar Legowo

Dia menambahkan bahwa pembangunan patung Bung Karno bukanlah persoalan kemampuan Polri dalam membangun. Namun memang memiliki sejarah yang panjang dan dalam di masa lampau dengan Ir.Soekarno.

Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Provinsi Bali, Diah Srikandi, yang ikut mendampingi kunjungan ini mengatakan bahwa momen kujungan Kapusjarah Polri ke Museum Agung Bung Karno sangat tepat dengan peringatan Bulan Bung Karno di Provinsi Bali. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini