Kotori Wajah Kota, Puluhan Reklame Bodong Dibabat Satpol PP

Kotori Wajah Kota, Puluhan Reklame Bodong Dibabat Satpol PP
DIBABAT – Satpol PP Kota Denpasar membabat spanduk bodong yang dipasang sembarangan di salah satu pagar kantor, Senin (7/6/2021).

Sumerta, DENPOST.id

Satpol PP Kota Denpasar tidak hanya melakukan razia protokol kesehatan (prokes) saat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Namun juga memberangus puluhan reklame dan spanduk bodong yang mengotori wajah kota di sejumlah ruas jalan protokol.

Kasatpol PP Kota Denpasar, Dewa Gede Anom Sayoga, Senin (7/6/2021) mengatakan, reklame, spanduk dan famplet ini dipasang di  sembarang tempat tanpa Surat Izin Penyelenggaraan Reklame (SIPR). Diungkapkan Anom Sayoga, reklame dan spanduk biasa dipasang tengah malam agar tidak terpantau instansi terkait. “Pemasangan reklame dan spanduk tidak pada tempatnya mengganggu ketertiban umum dan membuat wajah kota kumuh dan kotor. Kami tidak mengenal hari libur dan ini merupakan tugas rutin untuk menjaga Denpasar bersih, tertib, aman dan nyaman masyarakat melakukan aktivitas,’’ kata Anom Sayoga.

Baca juga :  Madrayasa PAW Perbekel Desa Sidakarya, Arwatha Kembali Pimpin Pemecutan Kaja

Anom Sayoga menjelaskan, Pemerintah Kota Denpasar telah mengeluarkan Peraturan Walikota Nomor 3 tahun 2014 tentang penataan reklame besar maupun reklame sedang dan kecil. Perda tersebut telah mengatur titik atau zona penempatan reklame dan tidak boleh dipasang di telajakan taman, pohon perindang maupun fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pemerintah telah menyiapkan ruang pemasangan reklame kecil (mini) atau besar. Namun masih ada pengusaha atau masyarakat memasang sembarang tempat sehingga melanggar aturan yang ada. ”Masa pendemi virus corona melanda Denpasar, kami tetap melakukan penertiban reklame besar maupun kecil tanpa izin dan kedaluwarsa,’’ ujar Anom Sayoga.

Lebih lanjut Anom Sayoga mengungkapkan, sebelum melakukan pembongkaran, terlebih dahulu melayangkan surat pemberitahuan atau peringatan kepada pemilik reklame. Hal ini dilakukan guna menjaga komunikasi dan koordinasi berjalan dengan baik. ”Kalau kami sudah memberikan surat pemberitahuan dan tidak mendapat respons, baru mengambil tindakan tegas dengan melakukan pembongkaran,’’ jelas Anom Sayoga. (103)

Baca juga :  Tiga Anak Yatim Diasuh Paman dan Kakek-Nenek

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini