Satpol PP Tertibkan Tambang Liar di Pantai Bugbug

Satpol PP Tertibkan Tambang Liar di Pantai Bugbug
BONGKAR – Tertibkan aktivitas penambangan liar, Satpol PP Karangasem bongkar ratusan karung batu dan pasir pantai, Selasa (8/6/2021).

Amlapura, DENPOST.id

Penambangan liar pasir dan batu di Pantai Bugbug, Desa Bugbug, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem kian meresahkan warga. Tak hanya melanggar Peraturan Daerah (Perda), penambangan tersebut juga menyebabkan kondisi pantai kian abrasi. Karenanya Satpol PP Karangasem kembali turun melakukan penertiban, Selasa (8/6/2021). Tak ditemukan aktivitas penambangan, Satpol PP langsung melakukan penertiban di lokasi pengepul. Ratusan karung batu dan pasir serta oknum penambang dan pembeli diamankan petugas.

Kabid Tramtib Satpol PP Karangasem, I Made Begananda, mengungkapkan, penambangan liar ini melanggar Perda Nomor 4 tahun 2014. Khususnya pasal 4 yang mengatur tentang pelarangan aktivitas penambangan pasir atau batu di areal pantai. “Sebelumnya sempat kami sidak di areal pantai, tapi selalu tak ditemukan oknum penambang. Hari ini ditemukan, kami akan tindak lanjuti sesuai Perda, ” katanya.

Baca juga :  Banyak Isu Soal Vaksin, Warga Karangasem Tetap Antusias

Pantauan di lapangan, pengangkut hasil tambang yang terdiri dari 2 wanita dan seorang pria tak mau mengungkapkan identitas pemilik tambang. Mereka mengaku hanya digaji sebagai tukang angkut dengan gaji Rp 15 ribu rupiah. Tak hanya oknum pengangkut pasir, petugas juga menemukan seorang pembeli yang hendak membeli pasir pantai yang akan dijual ke wilayah Gianyar.

“Karena tidak mau memberi keterangan siapa pemilik aktivitas tambang ini, seluruhnya kami bawa ke kantor. Termasuk pembeli dan kendaraannya kami sita. Selanjutnya akan kami serahkan pada PPNS, ” imbuh Begananda.

Baca juga :  Bupati Lunasi Janji, Jembatan Asak-Subagan Siap Dibangun

Tak hanya itu, petugas juga membongkar paksa ratusan karung batu pantai dan pasir. “Aktivitas pertambangan ini tidak baru, sudah sejak lama ada sehingga ada laporan dari masyarakat,” imbuhnya. Pihaknya menyatakan akan terus melakukan pengawasan di lokasi tersebut, agar tak ada warga yang berani melakukan penambangan lagi.

Sementara itu, salah satu pembeli pasir pantai yang diamankan, Wayan S mengaku hanya menjadi penyalur. “Biasa saya beli Rp 300 ribu per truk dan Rp 400 ribu sampai mengangkut ke atas,” ungkapnya. Ia mengaku membawa pasir sesuai permintaan. “Saya metanje (menawarkan), di mana ada yang pesan saya bawakan,” katanya. (yun)

Baca juga :  Satu Kelurahan Jadi Zona Merah, Vaksinasi Anak Terus Dikebut

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini