Giri Prasta Hadiri Upacara Munggah Sulinggih di Desa Bakas, Klungkung

Giri Prasta Hadiri Upacara Munggah Sulinggih di Desa Bakas, Klungkung
RSI YADNYA - Bupati Giri Prasta saat menghadiri Upacara Rsi Yadnya Munggah Sulinggih Ida Bhawati Pasek I Wayan Gede beserta istri yang digelar di Desa Bakas, Banjarangkan, Klungkung, Selasa (8/6/2021) malam. DENPOST.id/ist

Mangupura, DENPOST.id

Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, yang juga selaku Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Provinsi Bali menghadiri Upacara Rsi Yadnya Munggah Sulinggih Ida Bhawati Pasek I Wayan Gede beserta istri yang digelar di Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Selasa (8/6/2021) malam. Turut hadir Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta; Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana; Ketua Majelis Madya Desa Adat Klungkung, Dewa Made Tirta; Ketua PHDI  Klungkung, l Putu Suarta dan para sulinggih.

Giri Prasta juga menyerahkan dana motivasi secara pribadi kepada panitia karya. Ditegaskannya, menjadi sebuah kewajiban bagi Giri Prasta untuk mengingatkan sameton Pasek agar selalu eling pada jati diri dalam melaksanakan Catur Swadarmaning Kepasekan dan sesana Kepasekan. “Saya ingatkan sameton Pasek untuk menunjukkan jati diri, dengan mengedepankan rasa bakti ring Ida Hyang Widhi Wasa, bakti ring kawitan, tindih ring bhisama dan guyub ring pasametonan,” saranya.

Baca juga :  Antusiasme Pecinta Sepak Bola Dorong Kebangkitan UMKM Bali

Kenapa seperti itu, karena menurut Giri Prasta sameton Pasek itu saling sumbah, saling parid dan masidikara. “Saling sumbah karena satu Hyang Kawitan. Masidikara artinya duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Dan, saling parid, satu gelas kopi bisa berbagi, itulah Pasek sujati,” tegasnya.

Terkait Catur Bandana Dharma Giri menjelaskan, terdiri dari Amari Wesa yakni seorang sulinggih seharusnya menggunakan busana kain putih, baju putih, saput atau selendang putih/kuning, memakai destar putih dan bentuk destar magelung. Amati Haran, dalam hal ini seorang sulinggih telah menerima gelar “Jro mangku”. Penyimpangan yang masih terjadi di mana pemangku malu mencantumkan gelar “jro mangku” di depan namanya. Amari Sesana, dalam hal ini seorang sulinggih harus mampu mengubah perilaku dan kebiasaan buruknya. Maguru Susrusa, dalam hal ini seorang sulinggih semestinya tekun dan taat mempelajari serta menerapkan isi dari sastra Kusuma Dewa serta memohon bimbingan seorang sulinggih.

Baca juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, Dewan Badung Dukung Program Kendaraan Ganjil-Genap

Sementara Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta mengaku gembira bisa menghadiri upacara ini. Dikatakananya, sekarang ini tugas sulinggih sangat berat karena getaran-getaran serta rangsangan untuk berbuat adharma tidak hanya terjadi pada umatnya saja tetapi juga bisa terjadi pada diri sulinggih. “Saya secara pribadi sangat menghormati sulinggih, maka dari itu mari kita semua hormati para sulinggih kita, siapa lagi yang menghormati kalau bukan kita sendiri. Dan, untuk para sulinggih sudah tercover BPJS Ketenaga Kerjaan Kelas I. Sekali lagi terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah membantu hingga acara ini terlaksana,” ucapnya.

Dipaparkan Suwirta, pandita adalah orang yang telah mencapai kebebasan jiwa, yang segala pekerjaannya tidak lagi meninggalkan ikatan-ikatan keduniawian karena ia terbebas menuju kelepasan. Pandita juga seseorang yang sudah mencapai “Niskama Karma” yang meyakini hukum karma-phala. Karenanya masyarakat mendudukkannya sebagai orang utama atau dengan kata lain “sulinggih”.

Baca juga :  Perempuan Asal Bondowoso Ditemukan Meninggal di Kamar Kos

Untuk diketahui, Ida Bhawati Pasek I Wayan Gede adalah kelahiran Desa Bakas, 12 Agustus 1965, sedangkan Ida Bhawati Pasek Istri Ni Wayan Darmini kelahiran Tangkup, 27 September 1970. Kedua calon sulinggih telah Madeg Bhawati pada tanggal 12 November 2019. Dalam permohonannya untuk menjadi sulinggih telah melengkapi diri dengan surat keterangan catatan kepolisian, surat keterangan sehat serta surat keterangan sehat jiwa, surat keterangan dukungan dari keluarga dan dari Bendesa Adat. Adapun nabe dari keduanya adalah Ida Pandita Mpu Nabe Ciwa Budha Dhaksa Darmita dari Geria Agung Sukawati Gianyar sebagai Nabe Tapak, Ida Pandita Mpu Nabe Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba dari Geria Agung Manuaba Bongkasa sebagai Nabe Saksi dan Ida Pandita Mpu Nabe Paramayoga dari Geria Sala Simpati sebagai Nabe Waktra. (a/115)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini