Terkait Pembobolan Dana Nasabah, OJK Diminta Audit Sistem Bank Mega

Terkait Pembobolan Dana Nasabah, OJK Diminta Audit Sistem Bank Mega
AUDIT - Charlie Usfunan (tengah) meminta OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara turun melakukan audit sistem Bank Mega.

Denpasar, DENPOST.id

Perkara pembobolan dana nasabah Bank Mega senilai Rp 62 miliar yang mulai disidang di Pengadilan Negeri Denpasar menyita perhatian. Setelah penasihat hukum terdakwa Putu Eka Priyana mengajukan eksepsi karena menilai dakwaan jaksa tidak cermat, giliran terdakwa Meidina Rizky Prasentari Putri alias Kiky “bernyanyi”.

Kiky yang sebelumnya menjabat Pimpinan Cabang Bank Mega Cabang Gatsu Denpasar melalui penasihat hukum Charlie Usfunan meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara turun melakukan audit sistem Bank Mega. “Klien kami merasa dikorbankan dan diperlakukan tidak fair. Klien kami minta OJK turun dan melakukan audit atau investigasi ke Bank Mega,” desak Charlie Usfunan kepada wartawan, Senin (12/7/2021).

Baca juga :  Motivasi Atlet Bali, Gubernur Koster Beri Penghargaan Hingga Tawarkan Pekerjaan

Charlie juga meminta OJK membuka data terkait perkara ini secara utuh, termasuk memeriksa nasabah yang uangnya raib. Menurutnya, nasabah dalam kasus ini mendepositkan uangnya mendapat bunga lebih besar dari ketentuan. Bahkan, nasabah juga mendapat bunga tambahan 10-12 persen. “Alasan nasabah mendapat bunga lebih besar itulah yang harus ditelisik. Kami ingin memastikan, yang dirugikan dalam kasus ini apakah bank atau nasabah? Kalau yang dirugikan nasabah, semestinya nasabah yang melapor, bukan bank,” tegasnya.

Selain itu, Charlie juga menyoroti pengawasan internal bank. Ia menilai ada kelemahan sistem pengawasan, sehingga terjadi kasus ini. “Kami menduga ada kelalaian pengawasan. Jangan sampai karena sistem bobrok malah karyawan yang dikorbankan. Kan aneh, kejadian dari 2014 baru terungkap sekarang. Pihak bank harus fair,” tandasnya.

Baca juga :  Putu AHP Dijatuhi Hukuman 7,5 Tahun Dipenjara

Meski kliennya menjabat sebagai kepala cabang, Charlie menduga ada pejabat lebih tinggi ikut bermain.  “Kami akan mengirim  surat permohonan kepada OJK untuk pengawasan khusus terhadap kasus ini,” bebernya.

Menurutnya, salah satu tugas pokok OJK adalah melakukan pemeriksaan khusus dan investigasi terhadap penyimpangan yang diduga mengandung unsur pidana di bidang perbankan. Manajemen bank harus mampu mempertanggungjawabkan penyelewengan yang dilakukan pegawai bank. “Kami juga memohon agar Bank Mega Cabang Gatsu terbuka terhadap data kerugian nasabah yang sesungguhnya. Jangan sampai angkanya dibesar-besarkan,” ujarnya.

Jika benar simpanan nasabah raib akibat fraud atau kecurangan yang dilakukan karyawan atau pejabat bank, maka bank tak bisa menghindar dari tanggung jawab. “Hal itu sesuai konsep vicarious liability, yaitu pertanggungjawaban seseorang atas kesalahan orang lain yang ada dalam ruang lingkup atau tanggung  jawabnya. Ini sesuai fungsi pengawasan perbankan oleh OJK sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 21/2011 tentang OJK,” imbuhnya.

Baca juga :  Dari Zona Merah Jatim, Tujuh Duktang Diamankan di Desa Sumerta Kaja

Dalam dakwaan dijelaskan, terdakwa bersama terdakwa lainnya Putu Eka Priyana dan I Gede Surya Pratama Putra (berkas terpisah) disebutkan telah memanipulasi data otentik. Data yang dimanipluasi berupa data nomor HP milik nasabah di dalam sistem data base Bank Mega, dengan tujuan untuk memindahkan saldo rekening milik nasabah Bank Mega ke rekening penampung uang hasil kejahatan. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini