Desa Adat Tanjung Benoa akan Beli Lahan Pertanian di Luar Badung

Desa Adat Tanjung Benoa akan Beli Lahan Pertanian di Luar Badung
Bendesa Adat Tanjung Benoa, Made Wijaya

BENCANA bisa datang kapan saja, begitu juga dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini. Bencana di sektor kesehatan ini benar-benar mengubah tatanan hidup masyarakat dunia. Yang paling terdampak adalah di sektor hospitality(pelayanan/jasa). Di Kabupaten Badung, khususnya di kawasan Badung Selatan, dulu  sektor pelayanan/jasa khususnya di bidang pariwisata sangat menopang perekonomian masyarakat Badung Selatan. Terlebih di kawasan tersebut tidak memiliki lahan pertanian seperti di Badung Utara, sehingga sektor pariwisata menjadi tumpuan masyarakatnya.

Namun, ketika pandemi Covid-19 menerjang, dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Akomodasi pariwisata seperti hotel tak beroperasi. Sektor jasa transportasi pariwisata hingga objek wisata yang dikelola masyarakat di kawasan tersebut juga ikut kolaps. Lantas bagaimana para pemangku kebijakan seperti desa adat di kawasan Badung Selatan menjaga ketahanan pangan kramanya agar bisa  bertahan di situasi sulit saat ini ?

Berikut wawancara DENPOST.id dengan salah satu Bendesa Adat di Kuta Selatan yakni Bendesa Adat Tanjung Benoa, Made Wijaya.

Wijaya mengakui Desa Adat Tanjung Benoa dan desa adat lainnya di kawasan Kuta Selatan sebelum pandemi Covid-19  sangat bertumpu pada sektor pariwisata. “Mengapa kita bertumpu sekali di sektor pariwisata, ini sudah sangat jelas karena kita tidak memiliki lahan pertanian seperti halnya di kawasan Badung Utara. Kita hanya punya pantai dan sejumlah lahan, namun sudah dibangun sejumlah hotel dan restoran. Dan kita akui bahwa dengan adanya pandemi ini masyarakat  kami sangat terdampak sehingga perlu kita pikirkan ketahanan pangan krama Desa Adat Tanjung Benoa bilamana kondisi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini berkepanjangan dan menjadikan masyarakat kita caos,” ujarnya.

Wijaya yang juga anggota DPRD Badung tersebut mengatakan, selaku bendesa adat  sudah memulai memikirkan kebutuhan krama ke depan terutama saat bencana, tidak hanya saat pandemi tapi potensi bencana lain seperti Tsunami.  “Seperti yang kita ketahui saat ini, pemerintah tidak berdaya lagi membantu masyarakatnya dalam masalah ketahanan pangan. Lalu kami melakukan rapat bersama tokoh-tokoh masyarakat di empat banjar di Desa Adat Tanjung Benoa untuk memikirkan solusi ketahanan pangan saat bencana Covid-19 ini terus berkepanjangan. Dan tercetuslah sejumlah opsi bantuan dari jangka pendek hingga jangka panjang. Untuk jangka pendek  membantu krama  dengan pemberian sembako menggunakan kas banjar. Rata-rata setiap banjar ada 200 lebih kepala keluarga dan kami memiliki empat banjar yakni Banjar  Purwa Shanti, Banjar Kertha Pascima, Banjar Tengah dan Banjar Anyar  yang perlu bantuan,” paparnya.

Baca juga :  Kencangkan Ikat Pinggang, Hotel Mulai Rumahkan Karyawan

Wijaya mengatakan, untuk ketahanan pangan jangka panjang pihaknya juga sudah mempersiapkan lahan pertanian di dua kawasan yang satu di Kawasan Badung Utara yakni di Kecamatan Petang dan satu lagi akan beli lahan pertanian di kawasan Kabupaten Tabanan. “Untuk di Petang itu ada sekitar 2 hektar sebagai lahan peternakan dan di Tabanan kita akan beli sekitar 20 hektar. Dari mana dapat dana? Kita masih memiliki uang kas desa adat untuk membeli aset-aset pertanian tersebut. Kita tahu kita tidak memiliki sawah dan masyarakat tidak cukup hanya bisa makan ikan saja, tapi juga perlu beras. Untuk itu kita siapkan lahan pertanian itu untuk memenuhi kebutuhan pangan krama kita nantinya. Kesimpulannya, jika pandemi berkepanjangan kita sudah siap akan pangan untuk membantu,” terangnya.

Baca juga :  Tinjau Penataan Kawasan Pantai Jerman, Ini Yang Dilakukan Giri Prasta

Dia juga mengusulkan kepada pihak pemerintah agar produksi pertanian yang ada di Badung Utara bisa didistribusikan ke Badung Selatan di masa pandemi Covid-19 dan PPKM Darurat ini. Misalnya dengan melakukan subsidi. “Kita tidak meminta gratis, tapi membeli, namun dengan harga yang lebih murah dengan kondisi saat ini. Jadi konsep pemerataan Badung Utara dan Selatan ini bisa terlaksana, tidak sekadar wacana. Dulu saat tidak pandemi, Badung Selatan membantu Badung Utara di sektor infrastruktur dengan kucuran pajak dari sektor pariwisata. Dan, sekarang kita sedang terpuruk, kita berharap Badung Utara bisa membantu sektor pertanian dengan membantu produksi pangannya ke warga di Badung Selatan,” harapnya.

Baca juga :  Tim Gabungan Razia Kendaraan Masuk Badung

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Badung, Wayan Wijana, belum bisa memberikan komentar terkait usulan Bendesa Adat Tanjung Benoa tersebut. Saat dihubungi melalui pesan  WhatsApp, Rabu (14/7/2021), mantan Kabag Organisasi Setkab Badung tersebut hanya menjawab sedang mengikuti ujian diklatpim II. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini