“Jalur Tikus” Bertebaran, Polisi Lakukan Penyekatan Dua Lapis

picsart 07 16 07.34.53
PENYEKATAN - Giat penyekatan di perbatasan Bangli.

Bangli, DENPOST.id

Penyekatan di semua perbatasan yang telah dilakukan aparat, baik dari pemerintah kabupaten maupun kepolisian dan TNI melakukan berbagai kebijakan di masa penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, rupanya belum mampu menurunkan mobilitas warga di Bangli. Hal ini menyebabkan Bangli belum masuk zona hijau.

Terkait hal ini, Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan tak menampik hal tersebut. Sebab ada puluhan jalur-jalur “tikus” atau jalan alternatif bertebaran di Bangli melewati perbatasan. Kondisi ini sebelumnya juga sudah diantisipasi dengan melakukan patroli dari polsek-polsek.

Baca juga :  DPRD Bangli Bentuk Lima Pansus, Godok Lima Ranperda

“Jalan tikus tetap ada dan sangat banyak jalan tikus yang ada. Untuk jalan tikus, penyekatannya dengan patroli Polsek pada jam-jam tertentu,” katanya, Jumat (16/7/2021).

Disinggung alasan warga nekat terobos penyekatan, menurut perwira asal Tabanan ini menyebutkan warga atau pengguna jalan memiliki 1.001 alasan supaya bisa lewat. “Kalau alasan yang pasti 1.001. Ada mengaku bekerja, pulang kampung, kepentingan mendadak, ke bank, berobat, sembahyang dan berbagai alasan lainnya. Tapi anggota tetap bertugas sesuai dengan ketentuan saja,” ungkapnya.

Baca juga :  Oknum Kepsek Lecehkan Siswi Ditahan Kejaksaan

Lantas apa tindak lanjut dari kondisi tersebut? Ditanyakan demikian, mantan Kapolres Mappi, Papua ini mengaku sekarang pihaknya telah menerapkan penyekatan dua lapis untuk menyaring yang lolos dari penyekatan perbatasan.
Contohnya kalau di Bunutin dibalikkan, terus mau lewat Simpang Taman Bali, maka ring Simpang Taman Bali dijaga oleh Polsek Bangli,” sebutnya.

Sejauh ini pihaknya mengklaim penyekatan dua lapis ini cukup efektif dalam menurunkan mobilitas warga.

Baca juga :  Lagi, Bertambah Dua Pasien Covid-19 Meninggal di Bangli

Sementara salah seorang warga Bangli, Wayan Antara mengaku tiga hari dalam seminggu harus ke Denpasar untuk bekerja. selama pandemi. Dirinya beserta istri dan anak-anaknya sudah tidak tinggal di Denpasar melainkan di kampungnya di Tembuku. “Kantor menerapkan 50 persen WFH, jadi saya seminggu berkerja hanya tiga hari kadang hanya dua hari. Gajinya disesuaikan menjadi harian. Kalau tidak ke kantor tidak dapat gaji,” akunya. (128)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini