Dilema PPKM Darurat, Tutup Toko Non-Esensial, Urusan Perut Krusial

picsart 07 17 02.48.21
TOKO - Suasana Toko Niki Furniture di Jalan Gajahmada Singaraja saat buka sebelum PPKM Darurat.

Singaraja, DENPOST.id

Pelaksanaan PPKM Darurat benar-benar menjadi dilema. Di satu sisi jika tidak dilakukan dikhawatirkan akan meningkatkan angka kasus Covid-19, di sisi lain ekonomi masyarakat langsung terimbas. Terutama usaha-usaha yang masuk kategori non-esensial. Mereka harus menutup usaha selama PPKM Darurat dilaksanakan.

Menghadapi situasi ini, warga pun hanya bisa pasrah dan menunggu kebijakan pemerintah untuk menetralisir dampak yang ditimbulkan. “Sebagai warga negara yang baik, tentu kami akan mengikuti apa yang disampaikan pemerintah. Namun kita juga perlu solusi atas kebijakan yang dibuat itu,” ucap Ni Ketut Suryatiningsih (39), pemilik Niki Furniture di Jalan Gajahmada Singaraja, Sabtu (17/7/2021).

Baca juga :  Diserang Teman Sekolah, Terkapar Bersimbah Darah

Dia mengaku, hampir 1,5 tahun, tepatnya sejak Covid-19 mewabah, dagangannya kurang laku. “Jangankan untuk beli kasur atau lemari. Untuk makan saja semua susah,” ungkapnya. Apalagi dengan tidak diperbolehkan buka dagangan karena masuk kategori non-esensial, dia pun pasrah dan tak bisa ngomong banyak. “Dagang kasur seperti saya ini masuk kategori non-esensial. Tetapi perut keluarga kami krusial. Buka saat kondisi normal saja susah, apalagi nggak dikasi buka. Makan apa saya nanti?” imbuhnya.

Tak hanya itu, dia pun mengaku terpaksa menunggak bayar pajak karena memang tidak ada pemasukan sama sekali saat Covid-19 muncul.
“Tolonglah pemerintah juga mengeluarkan kebijakan untuk menetralisir keadaan yang sudah mulai abnormal ini,” harapnya.

Baca juga :  Cegah Kerumunan, Satpol PP Ketatkan Pengawasan Vaksinasi Massal

Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, meminta agar masyarakat bersabar, mengingat belum ada tanda-tanda pandemi berlaku. Bahkan belakangan angka kasus cenderung meningkat. Dia berharap masyarakat mematuhi aturan PPKM Darurat juga senantiasa disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). (118)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini